Tampilkan postingan dengan label Entrepreneur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneur. Tampilkan semua postingan

07 Juni 2009

INOVASI

Banyak orang beranggapan bahwa kreativitas itu identik dengan inovasi. Bahkan secara sekilas pun Anda pasti sudah sedikit sulit membedakan antara kreativitas dengan inovasi. Padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Secara sederhana, kreativitas lebih merujuk kepada pembentukan ide-ide baru, dan inovasi untuk menghasilkan uang dari ide-ide tersebut. Kreativitas adalah titik awal bagi inovasi. Dan Inovasi merupakan kerja keras yang mengikuti pembentukan ide.

Inovasi dapat lahir dari gagasan cemerlang dan rumit atau juga melalui ide-ide selintas dan sepele. Sebagai contoh, 3M menemukan post it notes, yaitu kertas pembatas buku yang tidak rusak apabila ditempel-lepaskan. Hak tersebut didasarkan karena banyaknya orang yang butuh perekat yang tidak rusak apabila dilepas kembali. Kebutuhan ini sangat banyak, apalagi bagi para sekretaris yang membutuhkannya untuk menulis memo. Bagian riset pun memikirkan campuran-campuran kimia untuk menghasilkan perekat semacam itu. Hasilnya? Produk tersebut kini menjadi salah satu lini produk yang terbesar di perusahaan 3M.

Contoh lainnya adalah bagaimana Tirto Utomo membangun gagasan air minum dalam kemasan. Tirto Utomo melihat begitu banyak para ekspatriat dan turis yang sakit perut akibat meminum air kran di hotel. Belum lagi apabila mereka sedang dalam perjalanan sering mengeluh kesulitan memperoleh air minum bersih. Tirto kemudian melihat ini sebagai peluang. “Bagaimana jika kemas saja air minum itu agar dapat dengan praktis diminum kapan saja?” Banyak yang menertawakan idenya. Orang lain beranggapan menjual air putih di Indonesia, sama saja dengan menjual es di kutub. Bagaimana dengan hasilnya Tirto Utomo saat ini?

Zimmerer dan Scarborough (2005) mencoba menjelaskan bahwa inovasi merupakan kemampuan untuk menerapkan solusi yang kreatif terhadap suatu permasalahan berikut dengan peluang untuk meningkatkan atau untuk memperkaya kehidupan seseorang.

Entrepreneur adalah inovator, bukan hanya sekedar inventor. Ia tidak hanya berhenti sampai pada proses penciptaan atau penemuan ide, tapi melanjutkannya untuk dapat direalisasikan kedalam bentuk inovasi. Ada lima jenis inovasi yang dapat dilakukan oleh entrepreneur, yaitu:

  1. Pengenalan barang baru, atau perbaikan barang yang sudah ada
    Apabila Anda menciptakan barang atau jasa jenis baru, maka Anda memberikan keuntungan bagi pasar karena banyak pilihan untuk konsumsi.
  2. Pengenalan metode produksi baru
    Metode baru yang notabene merupakan penyempurnaan dari metode sebelumnya akan menciptakan efisiensi yang dapat menguntungkan perusahaan.
  3. Pembukaan pasar baru, khususnya pasar ekspor pada daerah baru
    Biasanya akibat tercipta suatu produk baru yang nantinya akan menghasilkan devisa bagi perekonomian negara.
  4. Penciptaan/pengadaan persediaan bahan mentah atau setengah jadi
    Juga dapat mengakibatkan tercapainya efisiensi.
  5. Penciptaan suatu bentuk organisasi industri baru
    Menciptakan efisiensi yang dapat menguntungkan perusahaan.
Apabila ingin memperoleh kesuksesan, maka inovasi yang Anda ciptakan haruslah yang bersifat sederhana dan fokus. Inovasi Anda tersebut terarah secara spesifik, jelas, dan memiliki desain yang dapat diterapkan. Dalam prosesnya, inovasi tersebut akan menciptakan pelanggan dan pasar yang baru.

10 Mei 2009

Mengembangkan kreativitas secara mudah

  1. Rileks
    Berhentilah sejenak memikirkan permasalahan Anda. Cobalah Anda bergurau atau mendengarkan humor, mendengarkan alunan lagu yang anda sukai, stretching ataupun meditasi yang dapat menghilangkan kekakuan dan ketegangan Anda.

  2. Latihan pikiran (mengeluarkan gagasan dan menyelesaikan masalah)
    Anda dapat mencoba dengan mengeluarkan seluruh gagasan Anda tanpa perlu pemecahannya, konsentrasi pada isu tunggal saja, mencari cara unik dalam menyelesaikan permasalahan pribadi atau kerja Anda, atau melatih diri untuk dapat menerima apabila terdapat kesalahan.

  3. Tentukan apa yang Anda inginkan
    Gambaran singkatnya, seperti Anda yang membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum memecahkan suatu persoalan. Anda mengumpulkan data dan fakta dalam benak Anda yang kemudian Anda identifikasikan mana yang paling penting.

  4. Mencari cara untuk mengatasi masalah
    Hal ini dapat diikuti dengan mematok waktu untuk fokus kepada masalah, mengerjakan rencana, menyusun subtujuan, mengingat kembali masalah-masalah serupa dan bagaimana dahulu Anda memecahkannya. Sebisa mungkin gunakanlah analogi-analogi dan strategi pemecahan yang berbeda secara verbal-visual-matematis, atau diagram-diagram. Percayalah pada intuisi Anda, dan bermainlah dengan ide-ide Anda dan pendekatan yang mungkin (dari perspektif yang berbeda).

  5. Mencari cara untuk melakukan sesuatu dengan baik
    Cara ini melibatkan upaya-upaya yang orisinal, menjaga keterbukaan pikiran, berpikir dengan cara yang nonkonvensional untuk menggunakan obyek dan lingkungan. Sebagai contoh, Anda dapat menggunakan headline surat kabar atau majalah yang kemudian Anda coba pikirkan untuk membantu Anda menjadi pemecah masalah yang lebih baik. Cobalah berpikir beda!

18 Maret 2009

Kiat untuk Tetap Sukses dalam bisnis

Kiat mencapai sukses adalah dengan cara:
  1. Layani pelanggan Anda dengan sebaik-baiknya
  2. Pacu usaha Anda sekuat tenaga dengan dukungan tim kerja yan solid
  3. Lakukan riset mendalam mengenai daerah sasaran yang memberi pengaruh bagi kemajuan bisnis Anda sebelum atau sesudah Anda membuka usaha ini
  4. Jaga jangan sampai Anda kehilangankontak hubungan dengan pelanggan dan mitra kerja Anda
  5. Tinjau kembali kemajuan ataupun kemunduran dari bisnis Anda secara berkala
  6. Perluas data pelanggan Anda, harus selalu mencari prospek pelanggan baru dan memelihara pelanggan lama
  7. Anda harus bisa menjual produk Anda dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan, jangan melakukan tindakan kompromi yang hanya akan membuat usaha Anda impas atau mengalami kerugian
  8. Buat rencana kegiatan dalam mengelola bisnis Anda secara rinci
  9. Renungkan dan bayangkan kejadian apa yang bakal menimpa usaha Anda di masa mendatang
  10. Biasakan Anda mengevaluasi berapa kuentungan usaha Anda kembali, sehingga usaha Anda dapt tumbuh dan berkembang dengan cepat
  11. Jaga dan tingkatkan selalu keterampilan dan kemampuan usaha Anda
  12. Beri Alternatif kemudahan bagi pelanggan untuk melakukan transaksi pembayaran melalui berbagai cara (lewat telepon atau debit ATM)
  13. Pastikan ‘deposito’ kas Anda selalu konsisten

12 Februari 2009

Apa Saja Hal-Hal yang Perlu Dievaluasi ?

  1. Bagaimana kondisi keuangan usaha Anda?
    Ini adalah tahap pertama, dimana Anda dapat mengetahui maju mundurnya usaha Anda dan mengukur kinerja usaha Anda melalui evaluasi keuangan.

  2. Bagaimana kondisi pasar bisnis Anda?
    Naik turunnya kondisi pasar sangat berpengaruh pada roda usaha Anda. Karena itu Anda tidak boleh melepaskan pandangan Anda dari kondisi pasar. Suatu saat akan terjadi perubahan yang menuntut Anda peka dan mengetahui dengan cepat bagaimana permintaan atau perubahan pasar, untuk segera diantisipasi dan kembali mengikuti selera pasar.

  3. Bagaimana dengan pasar usaha sasaran?
    Apakah produk Anda sudah sesuai dengan kebutuhan pasar? Indikator kegiatan usaha yang sehat atau berhasil biasanya ditandai dengan tepatnya pemilihan terhadap kebutuhan atau selera, biaya, kenyamanan, dan komunikasi dengan konsumen, serta pemilihan SDM yang tepat.

  4. Bagaimana kemajuan usaha Anda?
    Coba Anda tinjau kembali secara berkala (paling sedikit 6 bulan)

  5. Bagaimana tahapan pertumbuhan dan pengembangan usaha Anda?
    Bagaimana hasil dari sasaran jangka pendeknya? Apakah ada pencapaian keuntungan dan pertumbuhan seperti yang diharapkan? Bagaimana pangsa pasarnya? Apakah memenuhi target?

  6. Bagaimana kepemimpinan Anda?
    Apakah Anda stress, atau hilang semangat? Apakah Anda kehilangan visi serta energi yang pernah Anda miliki pada saat pertama kali membuka usaha?
Agar Anda dapat lebih terarah, dibawah ini dipaparkan langkah-langkah untuk mengelola usaha secara sehat, yaitu:
  1. Penetapan strategi dan arah usaha Anda
    Kemampuan menilai situasi dan lingkungan usaha Anda yang sekarang
    Kemampuan membuat perkiraan dan perencanaan usaha dengan arah yang benar

  2. Mencari dan memperkerjakan tim/karyawan Anda dengan perencanaan SDM yang terencana
    Mampu meninjau ulang kembali pendistribusian pembagian kerja dan arus kerja yang benar

  3. Mendelegasikan tugas dan kewajiban mengelola usaha
    Mampu mendidik dan melatih tim/karyawan Anda
    Memberi motivasi dan arah sasaran yang sama
    Kemampuan memperbaiki kinerja yang buruk
    Memelihara semangat yang tinggi pada tim/karyawan dalam situasi apapun juga
Langkah-langkah diatas berguna bagi Anda untuk menetapkan sasaran, mengukur kinerja tim/karyawan, mengkaji kinerja, serta mengambil tindakan perbaikan.

Kapan Melakukan Evaluasi?

  1. Secara rutin/berkala
    Anda bisa melakukan evaluasi bulanan, triwulan, ataupun tahunan. Biasanya yang paling sering dilakukan adalah evaluasi triwulan menyangkut evaluasi kegiatan sehari-hari (seperti pendapatan dan pengeluaran), dan tahunan untuk evaluasi secara lengkap yang mencakup laporan keuangan, persaingan usaha, SDM, dan lain sebagainya. Evaluasi berkala sangat baik manfaatnya, karena dengan adanya evaluasi secara rutin maka masalah-masalah yang timbul bisa lebih cepat diatasi dan peluang untk pengembangan bisa lebih cepat dimanfaatkan.

  2. Secara Insidental
    Evaluasi secara insidental dilakukan setiap saat apabila (umumnya) terjadi masalah yang dirasakan cukup signifikan pada usaha Anda. Evaluasi seperti ini biasanya dilakukan apabila terjadi masalah atau kemunduran pada usaha. Evaluasi ini sebenarnya kurang baik, karena masalahnya sudah terjadi dan tindakan pencegahan pun sudah tidak bisa dilakukan. Yang terpenting adalah tindakan koreksi. Dengan adanya evaluasi rutin yang baik, diharapkan masalah yang mungkin timbul bisa ditekan sehingga evaluasi insidental ini pun bisa dikurangi.

Monitoring & Evaluation

Dalam menjalankan suatu usaha, Anda harus bisa meyakinkan diri sendiri bahwa Anda mampu untuk mengembangkan diri dan menjadi lebih baik dalam segala hal yang Anda lakukan dibandingkan dengan kompetitor Anda. Hal ini adalah yang menjadi dasar dorongan bagi diri Anda untuk terus memantau dan memastikan bahwa usaha Anda tetap berada dijalur yang tepat. Menjalankan usaha tanpa adanya pengawasan dan evaluasi sama halnya dengan bepergian ke tempat asing tanpa peta atau petunjuk jalan. Anda tidak akan tahu seberapa jauh perkembangan usaha atau arah tujuan Anda tanpa adanya pemantauan dan evaluasi.

Ada beberapa hal yang Anda perlu lakukan dalam melakukan evaluasi, yaitu:
  1. Bagaimana posisi keseluruhan usaha anda?
    Anda mengevaluasi seberapa jauh pencapaian hasil dari keseluruhan usaha anda. Dengan begitu Anda bisa mengetahui berapa jumlah harta (modal/pendapatan usaha) Anda, berapa jumlah hutang-hutang Anda pada pihak lain, Berapa rata-rata pengeluaran dalam sebulan, dan berapa pendapatan bersih yang diperoleh setiap bulannya. Apakah ada penyimpangan dalam masalah keuangan? Jadi, biasakanlah untuk melakukan pengecekan posisi keuangan usaha Anda setiap saat.

  2. Apakah ada kemajuan atau kemunduran usaha?
    Setelah mengetahui posisi keuangan Anda, selanjutnya Anda melakukan evaluasi terhadap kegiatan usaha Anda. Apakah usaha Anda mengalami kemajuan atau kemunduran? Cara mudahnya adalah dengan membandingkan pada saat awal anda menjalankan usaha dengan setelahnya (biasanya dengan jangka waktu pembanding yang waktunya dapat anda tentukan sendiri, misalnya seperti 3 bulan, 6 bulan, atau satu tahun sekali setelah usaha berjalan)

  3. Lakukan langkah perbaikan atau pengembangan
    Setelah menerima laporan keuangan, Anda harus bersikap tenang dan berpikir melakukan perbaikan (apabila diketahui bahwa usaha mengalami kemunduran) dengan tujuan agar usaha Anda tidak semakin terpuruk. Sedini mungkin Anda harus mencoba mencari langkah yang tepat dalam memperbaiki usaha Anda.

    Caranya, berikanlah perhatian pada penjualan yang menurun. Dimana kira-kira letak kesalahannya, sehingga Anda bisa melakukan langkah-langkah efektif untuk mengatasinya, dan bisa segera melakukan ‘penyehatan’ agar usaha Anda kembali berjalan baik. Tetapi apabila kondisi keuangan dan penjualan Anda telah sehat dan mengalami peningkatan, usahakan janglah ‘cepat puas’ dulu. Karena masih banyak sekali yang perlu Anda lakukan untuk mengembangkan usaha Anda lebih tinggi dari pencapaian hasil yang diperoleh pada periode kemarin.

  4. Pikirkan target usaha Anda selanjutnya
    Anda dituntut untuk memikirkan ‘target’ selanjutnya dengan upaya Anda melakukan perbaikan atau pengembangan usaha. Coba pikirkan secara cermat, apakah dengan kondisi saat ini Anda ingin mendongkrak penjualan usaha Anda karena angka penjualan mengalami kerugian yang cukup besar? Coba Anda cari peluang target apa yang kira-kira tepat untuk Anda lakukan. Misalnya seperti, Apakah ini saatnya Anda melakukan promosi lebih gencar? Apa sudah waktunya Anda melakukan ekspansi usaha ke tempat lain yang lebih ramai?

Jadi Apa yang Perlu Ditingkatkan dari Seorang Entrepreneur?

Umumnya, pelanggan itu berada dalam keadaan sadar akan hasratnya untuk memperoleh dan mengkonsumsi suatu barang atau jasa sesuai dengan kebutuhan atau keinginannya. Tetapi banyak pula yang terjadi sebaliknya, dimana pelanggan mulai menyadari bahwa ia membutuhkan barang atau jasa tersebut setelah melihat sendiri atau mendengar dari orang lain mengenai keuntungan yang akan ia peroleh, meskipun sebelumnya tidak terpikir olehnya bahwa barang atau jasa tersebut adalah sesuai dengan keinginannya.

Kebutuhan atau keinginan pelanggan tersebut harus dilihat dan ditangkap secara gamblang oleh entrepreneur untuk dapat dijadikan suatu peluang. Seringkali peluang sudah dilihat didepan mata, namun tidak ditangkap oleh Anda. Dan seringkali pula peluang yang sudah ditangkap digenggaman pun anda biarkan begitu saja, tanpa anda manfaatkan. Sehingga peluang tersebut pun bisa saja hilang atau dimanfaatkan oleh kompetitor Anda.

Hal ini dapat terjadi secara sadar ataupun tidak sadar pada seseorang yang sedang menjalankan suatu usaha. Didepannya padahal sudah terpampang peluang yang menganga begitu besar, namun adanya peluang tersebut tidak disadari olehnya. Peluang tersebut merupakan kesempatan bagi dirinya untuk dapat mengembangkan usaha. Oleh karena itu, seorang entrepreneur harus mengasah kepekaannya (alertness) untuk dapat melihat setiap peluang untuk berkembang.

Kepekaan seorang entrepreneur adalah kemampuan untuk melihat dimana produk atau jasa yang semula tidak ada, mempunyai nilai tak terduga bagi pelanggan dan metode produksi baru yang dimiliki menjadi layak, yang sebelumnya tidak diketahui oleh orang lain.

Dengan mengasah kepekaan, seorang entrepreneur diharapkan dapat mengidentifikasi setiap peluang yang menguntungkan dan dapat mengambil keputusan stratejik untuk pengembangan usahanya.

08 Februari 2009

Peluang untuk Mengembangkan Usaha

Apabila kita berbicara mengenai pengembangan tentu saja berkaitan erat juga dengan apa yang dinamakan perubahan. Kita semua tahu bahwa pengembangan pastilah akan menghasilkan suatu perubahan. Goethe, seorang filsuf dari Jerman, mengatakan bahwa kita harus senantiasa berubah, memperbarui, meremajakan diri sendiri. Kalau tidak kita akan mengeras!

Mungkin yang dimaksud mengeras diatas adalah bahwa kita tidak berkembang lagi. Kita berada dalam kondisi stagnant, tidak berjalan maju. Dan itupun paling tidak menjadi hal yang lebih baik daripada kita berjalan mundur, dan mentok ke posisi semula.

Berkaitan dengan hal tersebut, banyak sekali para entrepreneur kita yang telah berhasil mendirikan dan membangun suatu usaha, terlihat sulit atau bisa dibilang gagal untuk dapat mengembangkan usahanya lebih lanjut. Bahkan yang lebih buruk lagi, kondisi ini dapat saja menjadikan usahanya menjadi mundur dan tutup usia. Coba bayangkan, berapa banyak curahan waktu, pikiran, dan uang yang telah ia perjuangkan pada saat pendirian usaha tersebut yang telah terbuang begitu saja. Dan yang tersisapun hanya berupa pengalaman ‘trial and error’ usahanya. Sampai poin ini, Anda jangan buat kesimpulan terlebih dahulu!

Nah, sekarang bayangkan pula apabila kondisi ini terjadi pada diri Anda dan usaha yang telah Anda lakukan saat ini. Mungkin bagi Anda yang baru akan memulai suatu usaha, sudah akan merasa ill feel atau mati rasa untuk meneruskan semangat Anda yang tadinya begitu menggebu-gebu dengan angan-angan keberhasilan. Tapi bagi Anda yang sejauh ini memang sudah menjalankan usaha, tampaknya memang perlu ‘treatment’ pembelajaran mengenai bagaimana usaha Anda itu agar dapat berjalan smooth kedepan tanpa dihantui rasa takut yang tidak beralasan. “Ingat, Entrepreneur nggak ada matinya untuk terus belajar!”

Jangan matikan segala mimpi dan semangat bagi Anda yang akan memulai maupun yang telah menjalankan usaha. Yang diperlukan oleh Anda adalah begaimana Anda dapat menyadari bahwa Anda perlu memperhatikan banyak hal untuk mengembangkan usaha Anda.

Coba sekarang kita urut perkembangan Anda sampai saat ini. Visi, misi, tujuan, dan cita-cita adalah poin pertama yang kudu’ atau wajib dipegang oleh seorang entrepreneur yang ingin menjalankan suatu usaha secara fokus dan terarah. Selanjutnya, Anda membentuk tim yang berisikan ‘bibit unggul’ yang dapat bekerja serba sistem dan kompak. Tim Anda tersebut selanjutnya mengejawantahkan misi, tujuan, dan cita-cita kedalam ‘business plan’ sebagai cara untuk merealisasikan angan-angan usaha. Kemudian konkritnya, Usaha pun terbentuk dan menjalani masanya selama beberapa waktu. Tapi, apa yang terjadi? Sekarang misalkan usaha anda ‘stuck’. Apa ya kira-kira yang salah dari ‘business plan’ Anda?

Pada sesi terdahulu, tentunya Anda pernah mendengar yang namanya peluang atau opportunity kan? Bahkan sebelum anda memasukkan suatu ‘business plan’ biasanya Anda pun sudah bisa melihat dan menangkap peluang untuk dijadikan ‘bisnis’. Jadi, Kira-kira apa sih peluang itu sebenarnya?

Zimmerer dan Scarborough (2005) menjelaskan bahwa peluang itu adalah seperangkat pilihan-pilihan eksternal yang bersifat positif dimana sebuah usaha atau perusahaan dapat memanfaatkannya agar dapat mewujudkan misi, tujuan, dan cita-citanya.

Sudah agak jelas? Baik kalau begitu kita akan memahami lebih jauh lagi. Apakah peluang itu ada pada saat membangun usaha? Atau mungkinkah dapat juga dilakukan setelah usaha berjalan? Isi kedua pertanyaan tersebut adalah tepat. Peluang berada pada fase awal dan fase berjalan. Namun hal ini memiliki konteks yang berbeda. Peluang pada fase awal cenderung lebih kepada bagaimana Anda dapat meraih pelanggan atau pasar yang Anda tuju. Tetapi pada fase berjalan adalah lebih kepada bagaimana Anda dapat meneruskan atau mempertahankan pelanggan untuk mengembangkan usaha Anda yang telah dikenal oleh pelanggan.

Seringkali masalah yang timbul dalam usaha membuat Anda tidak dapat berpikir secara jernih dan Anda pun keluar dari jalur angan-angan Anda yang telah digariskan sebelumnya. Hal ini makin diperparah ketika Anda tidak mampu melihat dan menangkap peluang yang ada disekitar Anda. Sehingga Anda pun masuk dalam zona ‘stuck’.

Rambat Lupiyoadi (2004) mengatakan bahwa dunia ini penuh dengan peluang, bukan masalah. Bahkan Tuhan pun telah mengingatkan bahwa didalam masalah atau problematika yang kita hadapi, disitu pula sebenarnya ada kemudahan atau peluang. Hanya saja masalahnya apakah kita memandang suatu situasi sebagai masalah yang harus dihindari atau sebagai bisnis untuk dikejar?

Jadi, Anda dituntut untuk dapat melihat peluang agar dapat mengembangkan usaha Anda. Peluang tersebut akan membesarkan usaha Anda. Masalah yang timbul mungkin dapat menjadi persoalan yang penting untuk diatasi. Tapi akan lebih baik apabila masalah tersebut diubah menjadi peluang untuk berkembang.

Untuk dapat berkembang, anda dituntut untuk dapat bersaing dengan para saingan usaha anda. Mengenali kondisi tipikal persaingan baru saat ini sangatlah anda perlukan. Anda dapat mengibaratkannya sebagai seorang teman yang baru saja anda kenal. Apakah anda dapat beradaptasi dengan teman anda dan memahami teman anda, sedangkan anda sendiri belum mengetahui secara jelas tipikal teman anda? Nah, berikut ini gambaran umum dari tipikal kondisi persaingan baru saat ini.
  • Para entrepreneur sulit untuk mengenal siapa, dimana, bilamana, serta bagaimana kekuatan dan kelemahan pesaingnya
  • Perubahan yang berjalan dengan cepat
  • Tingkat kompetisi yang sangat tinggi
  • Timbulnya berbagai hal diluar perkiraan dan pengalaman Anda sebelumnya

Membangun Tim yang Solid

Keberhasilan suatu usaha selain ditentukan oleh pemimpin dan kepemimpinannya, biasanya tidak terlepas dari kerjasama tim yang baik dalam hal ini karyawan dan pimpinannya. Semua anggota tim merasa sehati dan sejiwa untuk maju demi mencapai tujuan bersama. Ibarat menumpang sebuah kapal yang berlayar menuju pulau impian, Anda dan tim Anda bekerja sama mengemudikan kapal tersebut untuk mencapai tujuan yang telah Anda sepakati bersama.

Kerja sama tim hanya mungkin terwujud jika Anda sebagai entrepreneur yang memimpin perusahaan, memang berkeinginan untuk membangunnya. Untuk membangun sebuah tim yang tangguh terdapat beberapa hal yang harus Anda lakukan, antara lain:
  • Lakukan manajemen terbuka
    Tujuannya adalah setiap anggota tim memiliki informasi terkini dan terbaik. Cara ini akan mengembangkan kepercayaan di dalam tim Anda. Berbagi informasi tentang perusahaan seringkali bisa memperkuat teamwork di seluruh perusahaan, karena karyawan sama-sama mendapat informasi, dan hal ini akan menimbulkan rasa kesetaraan diantara mereka.

  • Berdayakanlah anggota tim
    Lakukan berbagai pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan bekerja dan berfikir. Sampai batas tertentu, bebaskan mereka untuk melakukan pengambilan keputusan atas tugas mereka, biarkan merek menerapkan ide-ide mereka. Bukan tidak mungkin ide-ide bagus akan muncul dari mereka, untuk kemudian dikembangkan demi kemajuan usaha.

  • Libatkan anggota tim dalam pengambilan keputusan
    Dengan dilibatkan dari awal, biasanya orang akan memiliki komitmen yang tinggi ketika mengerjakan sesuatu. Tandanya, ia akan bekerja keras, penuh inisiatif, antusias dan tanpa menyerah. Ia menikmati dan menjiwai pekerjaannya.

  • Perhatikan kesejahteraan mereka
    Jika usaha Anda maju dan berkembang, maka sewajarnyalah Anda meningkatkan kesejahteraan para karyawan tersebut.
Pentingnya Berbagi Peran
Untuk membantu membangun prestasi kerja dan teamwork salah satu caranya adalah dengan berbagi peran. Anda sebagai pemimpin menugaskan pada anggota tim peran yang berhubungan dengan penyelesaian tugas.

Untuk menentukan peran masing-masing anggota tim, dibutuhkan kejelian dan informasi tentang keahlian dan kemampuan mereka, sehingga Anda dapat membagi peran yang sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Peran tidak harus selalu tetap, dan anggota tim yang sama terkadang menempati lebih dari satu peran.

Berikut beberapa contoh peran tugas dalam suatu tim yang efektif:
  • Seorang pencipta ide (ideator) adalah orang yang cakap dalam menemukan ide
  • Seorang inventor menerjemahkan ide-ide ke realitas, dan karena itu berfungsi sebagai implementator
  • Seorang champion tidak sabar untuk melihat visinya menjadi kenyataan. Sebagi pemimpin Anda mungkin menugaskan peran ini pada diri Anda sendiri. Untuk menjadi pemimpin besar, jangan lupa mencari yang nomor satu.
  • Seorang sponsor memiliki kekuatan untuk melindungi, membentengi dan mendorong suatu proyek / usaha. Sponsor biasanya adalah eksekutif senior.
  • Technical gatekeeper adalah anggota tim yang mengumpulkan, menyatukan, mengorganisir dan menyebarkan informasi teknis, seperti teknologi baru apa yang mungkin dapat membantu kerja anggota tim.
  • Market gatekeeper adalah anggota tim yang menyatukan, mengumpulkan, mengorganisir, dan menyebarkan informasi pasar, seperti kemungkinan adanya permintaan untuk suatu prodek.
Pada awal berdirinya suatu usaha, biasanya anggota tim harus melakukan beberapa peran tersebut. Keuntungannya adalah mereka memiliki kesempatan untuk memperbesar kemampuan mereka untuk belajar. Kemudian saat usaha sudah berkembang, biasanya peran cenderung menyempit, dimana masing-masing anggota hanya akan memegang peran yang sesuai dengan keahlian khusus mereka. Keuntungannya adalah apa yang mereka kerjakan menjadi fokus, satu orang mengerjakan satu peran.

18 Januari 2009

Entrepreneur adalah pemimpin

Seperti yang telah Anda ketahui, seorang entrepreneur dituntut untuk memiliki berbagai kemampuan, salah satu yang terpenting adalah kemampuan untuk memimpin. Bahkan, sebagai seorang entrepreneur, Anda adalah seorang pemimpin. Mengapa demikian? Kontribusi utama seorang pemimpin adalah menciptakan visi bagi organisasi dan strategi bagaimana mencapai visi tersebut. Sebagai pemilik usaha, Andalah yang menentukan arah perkembangan suatu usaha.

Andalah yang menentukan usaha ini akan dibuat jadi seperti apa, sebesar dan semaju apa, serta bagaimana caranya. Anda pulalah yang akan mengarahkan dan membimbing semua karyawan Anda untuk mencapai tujuan perusahaan. Bahkan Anda pula yang menentukan apakah usaha ini akan terus dikembangkan atau akan dibiarkan saja hingga akhirnya mati. Semua itu adalah keputusan Anda sebagai pemilik usaha. Oleh karena itulah, mengapa sebagai pemilik usaha Anda juga merupakan seorang pemimpin.

Keberhasilan suatu usaha sangat ditentukan oleh pemimpinnya. Bahkan seorang entrepreneur sukses, Ir. Ciputra yang berhasil dalam mengembangkan Ciputra Group pernah menyatakan bahwa faktor keberhasilan suatu usaha 50% bergantung pada pemimpin dan kepemimpinannya, sedangkan 50% sisanya bergantung pada kualitas dan moral para karyawannya. Jadi faktor pemimpin memang sangat mutlak diperlukan dalam keberhasilan suatu usaha. Sehingga dengan demikian sebagai seorang entrepreneur Anda mutlak harus mempelajari kemampuan untuk memimpin.

Kriteria pemimpin yang baik

Berikut adalah gambaran dari seorang pemimipin yang baik:
  • Menempatkan orang yang tepat pada tempat dan waktu yang tepat (the right man in the right place and the right man in the right time). Seorang pemimpin harus mampu melakukan pendelegasian dan pemberian tugas yang sesuai dengan kemampuan setiap orang.
  • Mampu memberikan bimbingan bagi anak buahnya.
  • Mampu mengenali dan menggali potensi yang dimiliki oleh masing-masing anak buahnya.
  • Mampu menyatukan semua kekuatan yang ada dan mensinergikan untuk meraih sukses.
  • Mampu menjadi motivator dan inspirator
Seorang pemimpin ibarat dirigen pada suatu orkes simphony. Seperti seorang pemimpin simpony, seorang pemimpin bisnis memastikan bahwa setiap orang dalam perusahaan memainkan lembaran musik yang sama, mengkoordinasikan setiap anggota orkes agar menghasilkan suatu suara yang serasi dan mengarahkan anggota orkes saat bermain. Akan tetapi, menurut Max DePree, mantan ketua Herman Miller Inc., produsen mebel perkantoran, seorang pemimpin pada usaha kecil ibarat pemimpin group jazz, yang dikenal dengan improvisasi, inovasi dan daya ciptanya. Sebagai pemimpin group jazz, dia harus memilih musik, menemukan musisi yang tepat, dan menampilkannya dengan bagus.

Kira-kira seperti itulah gambaran seorang pemimpin pada usaha kecil. Anda harus pandai ber-improvisasi, tidak segan melakukan inovasi dan meningkatkan daya cipta. Anda juga harus memilih strategi apa yang akan Anda jalani, siapa orang-orang yang Anda percaya untuk menjalankannya, dan Anda juga harus membimbing dan bekerja bersama team Anda untuk menjalankan usaha tersebut sehingga berhasil.

Pemimpin vs manajer

Selain tugas sebagi pemimpin, Anda sebagai seorang entrepreneur memiliki tugas pula dalam me-manajemeni usaha Anda. Kepemimpinan dan manajemen memang saling berkaitan, kepemimpinan merupakan bagian integral dari manajemen. Seperti sudah diketahui, seorang manajer bertugas untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengontrol dan memimpin. Oleh karena itulah manajemen dan kepemimpinan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam bisnis kecil, kepemimpinan membuat suatu usaha dapat berjalan, sementara manajemen menjaganya agar tetap berjalan.

Beberapa perbedaan kepemimpinan & manajemen:
  • Manajemen lebih formal dan ilmiah, bersandar pada perencanaan, pengendalian dan memanfaatkan tekmologi informasi secara efektif.
  • Kepemimpinan memerlukan teamwork dan kerja sama dari jaringan banyak orang. serta memotivasi orang di dalam jaringan kerja tersebut.
  • Seorang pemimpin sering kali menunjukkan semangat, hasrat dan memberi inspirasi bagi orang lain agar mencapai kinerja yang lebih baik.
  • Manajemen tidak banyak melibatkan emosi, memperlihatkan perilaku yang lebih konservatif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  • Seorang pemimpin kerap menggunakan imajinasi dan teknik pemecahan kreatifnya untuk menciptakan perubahan.
  • Seorang manajer cenderung menggunakan cara standar dan mapan untuk menyelesaikan masalah.
  • Kontribusi utama seorang pemimpin adalah menciptakan visi bagi organisasi.
  • Kontribusi utama seorang manajer adalah mengimplementasikan visi tersebut.
Meskipun terdapat perbedaan, namun seorang pemimpin seharusnya memiliki kemampuan untuk memanajemeni usahanya. Seorang pemimpin yang hebat biasanya merupakan menajer yang handal pula.

Pembentukan Budaya Perusahaan

Pembentukan Budaya Perusahaan

Budaya perusahaan merupakan suatu tata cara dan peraturan tidak tertulis yang diterapkan dalam suatu perusahaan. Budaya perusahaan ini mencakup pada aturan tingkah laku, sikap, hubungan dan gaya suatu perusahaan. Ini merupakan inti dari pernyataan “ inilah cara kami melakukan berbagai hal di sini”. Pada perusahaan kecil biasanya budaya perusahaan masih kuat dipengaruhi oleh sifat dan sikap dari owner. Sebagai pemilik, Anda sangat berkepentingan dalam pembentukan budaya perusahaan Anda. Seperti halnya seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan anaknya, Andalah yang akan berpengaruh besar dalam pembentukan watak dan sifat anak Anda.

Apakah Anda ingin membentuk anak tersebut menjadi anak yang jujur, pemberani, ataukah menjadi anak yang tidak percaya diri, semua tergantung pada Anda. Demikian pula dengan perusahaan Anda. Andalah yang akan membentuk sifat-sifat dari perusahaan tersebut. Apakah Anda ingin membentuknya menjadi suatu perusahaan yang beretika, karyawan Anda menjunjung tinggi kejujuran, ataukah Anda ingin membentuknya menjadi perusahaan yang sangat sukses di luar, terkenal, tetapi untuk pencapaian keberhasilan itu Anda mengijinkan karyawan Anda untuk tidak segan-segan menusuk kanan dan kirinya.

Berikut ini merupakan contoh dari budaya suatu perusahaan. Pada suatu perusahaan distribusi, memiliki aturan tidak tertulis yang melarang karyawannya untuk mencuri, minum minuman keras, berjudi, dan bertengkar dengan sesama karyawan, yang dilakukan baik pada jam kerja maupun di luar jam kerja. Bila hal itu dilanggar, manajemen tidak akan segan-segan untuk mengeluarkannya.

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan perusahaan, maka akan terjadi perubahan budaya dalam perusahaan tersebut. Bila masa ini tiba, maka Anda sebagai pemilik perusahaan harus mampu mencermati dan harus memiliki fleksibilitas guna menyeimbangkan antara usaha-usaha untuk mempertahankan budaya yang sudah menjadi ciri unik usaha Anda dan usaha-usaha untuk memasukkan infrastruktur yang sangat penting bagi perkembangan usaha Anda selanjutnya.

Memberhentikan Karyawan (lay off)

Suatu hal yang biasanya dirasa sulit tetapi harus dilakukan oleh pihak manajemen adalah proses pemberhentian karyawan (lay off) atau biasa disebut dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). PHK biasanya merupakan alternatif terakhir yang terpaksa ditempuh oleh pihak manajemen setelah serangkaian proses sebelumnya, misalnya dengan diberikan surat peringatan, dan sebagainya. PHK biasanya terjadi antara lain karena hal-hal berikut ini:
  • Alasan yang jelas
    Biasanya perusahaan sudah memiliki alasan yang jelas (dan karyawan sudah mengetahuinya) mengapa perusahaan terpaksa mem-PHK karyawan tersebut. Mungkin karena performa karyawan yang tidak sesuai target yang telah disepakati saat penandatanganan kontrak kerja, atau bisa juga terjadi penurunan performa perusahaan sehingga harus terjadi perampingan tenaga kerja.

  • Perubahan strategi perusahaan
    Untuk memenangkan suatu persaingan, tidak jarang suatu perusahaan terpaksa harus merubah strateginya. Perubahan strategi ini tidak jarang akan membawa dampak pada perubahan kebutuhan akan sumber daya manusia, sehingga berakibat pada PHK karyawan pada bagian-bagian yang tidak dibutuhkan lagi. Mungkin Anda ingat beberapa waktu yang lalu terjadi PHK besar-besaran karyawan pabrik sepatu Nike yang terjadi karena perusahaan akan menutup pabrik di Indonesia dan memindahkannya ke luar negeri dengan pertimbangan disana lebih murah baik tenaga kerja maupun birokrasinya. Itu adalah salah satu contoh PHK yang terjadi karena perubahan strategi perusahaan

  • Pelanggaran berat
    Setiap perusahaan pasti memiliki batas toleransi atas kesalahan yang dilakukan oleh karyawan yang merupakan pelanggaran pada peraturan perusahaan. Perbedaan antara dua poin penyebab PHK diatas dengan poin ini adalah pada poin ini biasanya telah melalui serangkaian proses peringatan yang dilakukan oleh perusahaan pada karyawan.

  • Pensiun
    Penyebab PHK yang satu ini merupakan penyebab yang biasa terjadi. Karyawan yang telah memasuki usia pensiun maka akan secara otomatis akan di PHK oleh perusahaan, kecuali perusahaan menilai bahwa karyawan tersebut masih dibutuhkan keahliannya dan belum ada seorangpun yang dapat menggantikannya.

  • Meninggal
    Selain poin di atas, penyebab yang satu ini merupakahn penyebab yang paling alami. Pada saat karyawan meninggal dunia, maka otomatis hubungak kerjanya akan terputus.
Kelima penyebab terjadinya pemutusan hubungan kerja tersebut di atas merupakan penyebab yang berasal dari perusahaan, artinya perusahaanlah yang memutuskan hubungan kerja. Selain penyebab di atas, PHK bisa juga terjadi akibat karyawan mengundurkan dirinya dan tidak bersedia lagi bekerja di perusahaan Anda. Penyebab seorang karyawan mengundurkan diri dapat bermacam-macam, antara lain mendapat tawaran kerja yang lebih bagus di perusahaan lain, ketidaksesuaian dengan budaya perusahaan, dan sebagainya.

Pada PHK karena dikeluarkan oleh perusahaan, biasanya perusahaan akan memberikan uang pesangon yang besarnya relatif tergantung pada kebijaksanaan dan kemampuan perusahaan. Tetapi hal ini biasanya tidak berlaku pada PHK karena pelanggaran berat. Untuk poin ini biasanya perusahaan tidak bersedia memberikan pesangon. Kemudian pada PHK karena karyawan mengundurkan diri, ada beberapa perusahaan yang memberikan uang jasa yang besarnya tergantung pada kebijaksanaan perusahaan.

‘Memelihara’ Karyawan

Setelah proses penerimaan karyawan selesai dan karyawan sudah mulai bekerja di perusahaan Anda, maka tugas Anda berikutnya adalah memelihara (maintain) mereka. Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya mengapa mesti me-maintain karyawan, toh mereka sudah digaji. Ibaratnya seperti kita membeli mobil, maka ada waktu-waktu tertentu kita harus ganti oli, bahkan untuk pemakaian yang sudah agak lama mungkin ada sparepart yang harus diganti, bila tidak dimaintain maka bisa jadi mobil Anda akan mogok di jalan. Demikian pula dengan tenaga kerja Anda, perlu dimaintain supaya kinerjanya tetap bagus. Cara me-maintain karyawan antara lain dengan pemberian motivasi, training, dan sebagainya.

Pemberian motivasi pada karyawan bila diberikan dengan cara yang tepat maka akan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kinerja karyawan yang bersangkutan. Tetapi terdapat satu hal yang perlu Anda ketahui yaitu kebutuhan motivasi antara karyawan yang satu dengan yang lain mungkin saja berbeda, tergantung pada type masing-masing karyawan. Oleh karena itu Anda perlu mengetahui terlebih dahulu type karyawan Anda sebelum memberikan sesuatu untuk memberikan motivasi pada mereka.

Dalam manajemen sumber daya manusia dikenal Teori Maslow, yang merupakan tingkatan kebutuhan. Dalam teori ini disebutkan bahwa terdapat empat tingkatan kebutuhan pada manusia yang bila dipenuhi akan meningkatkan motivasi yang bersangkutan, yaitu:
  1. Physical
    Ini merupakan tingkatan kebutuhan paling dasar. Pada tingkatan ini Anda dapat memberikan motivasi pada karyawan Anda dengan cara memenuhi kebutuhan fisik mereka, seperti pemberian gaji yang sesuai harapan mereka, pemberian fasilitas, dan sebagainya.

  2. Security (rasa aman)
    Pada tingkatan ini karyawan dapat dimotivasi dengan pemberian rasa aman, baik keamanan dalam bekerja, maupun keamanan bagi keluarganya. Misalnya, Anda memberikan asuransi kesehatan bagi karyawan dan keluarganya sehingga karyawan tidak perlu bingung biaya perawatan bila anak atau istrinya sakit.

  3. Self esteem
    Pada tingkatan ke-tiga ini adalah kebutuhan atas penghargaan terhadap diri mereka. Mereka ingin diakui kemampuannya, dan dihargai kontribusinya dalam pekerjaannya. Pemberian motivasi pada tingkat ini biasanya tidak harus berhubungan dengan pemberian materi. Bila Anda ingin memotivasi karyawan dengan kebutuhan tersebut, maka Anda harus dapat menunjukkan kepada mereka bahwa Anda menghargai kerja mereka, Anda mengakui bahwa keberhasilan suatu proyek/pekerjaan salah satunya adalah berkat kemampuan dan kontribusi mereka.

  4. Aktualisasi diri
    Ini adalah tingkatan terakhir pada teori Maslow. Pada tingkatan ini karyawan memiliki kebutuhan dalam mengaktualisasikan diri mereka, antara lain dengan keinginan untuk tampil, mempunyai power dan otoritas atas suatu bidang. Menghadapi karyawan dengan tingkatan kebutuhan seperti ini, maka Anda dapat memberikan motivasi dengan memberi kepercayaan dan kesempatan pada mereka untuk meng-expose diri mereka dan tampil di depan publik.
Keempat tingkatan tersebut diatas merupakan kebutuhan manusia yang bila dipenuhi akan dapat meningkatkan motivasi, tetapi sebaliknya, bila kebutuhan tersebut tidak dipenuhi maka akan berakibat pada penurunan motivasi kemudian akan berlanjut pada penurunan kinerja mereka.

Reward & Punishment

Pemberian penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) sangat erat hubungannya dengan budaya perusahaan. Misalnya pada perusahaan yang menjunjung tinggi kejujuran, maka pada saat terdapat karyawan yang diketahui berbohong atau memalsukan laporan pengeluaran operasional (misalnya dengan mark up) akan langsung dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Tetapi untuk perusahaan lain yang lebih mengutamakan menjunjung tinggi prestasi dan pencapaian hasil kerja karyawan, maka untuk kasus yang sama mungkin tidak akan berdampak pada pemberian hukuman karyawan yang bersangkutan, selama karyawan tersebut menunjukkan kinerja yang bagus.

Penetapan Gaji Karyawan

Salah satu hal krusial dalam penerimaan dan pengelolaan karyawan adalah penggajian. Untuk menentukan besaran gaji seorang karyawan, Anda perlu mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:
  1. Harga pasaran
    Ibarat suatu produk yang memiliki harga pasaran, yaitu harga rata-rata yang harus dibayar oleh pembeli untuk mendapatkan produk tersebut, maka suatu profesi / tenaga kerja pun memiliki harga pasaran. Harga pasaran disini adalah berapa rata-rata besaran gaji yang biasa diterima oleh tenaga kerja level tertentu. Misalnya untuk pasaran sarjana S1 bidang administrasi adalah antara Rp 850 ribu hingga Rp 1,3 juta, tergantung pada kualifikasi dan pengalaman kerja calon karyawan tersebut.

    Tetapi harga ini bukanlah patokan baku, karena masih bisa naik atau turun tergantung pada kualitas pekerja, kemampuan perusahaan, dan negosiasi pada saat awal rekrutmen. Untuk mengetahui harga pasaran suatu tenaga kerja, Anda dapat memperolehnya dengan membanding-bandingkan besaran gaji yang diberikan oleh perusahaan lain untuk level tertentu, atau Anda juga dapat melihat dari data survey gaji yang sering diadakan dan dipublikasikan oleh beberapa media.

  2. Kualitas calon karyawan
    Tinggi rendahnya kualitas calon karyawan yang Anda inginkan juga berpengaruh pada besaran gaji yang harus Anda bayarkan. Hal ini merupakan suatu hal yang wajar. Semakin bagus kualitas calon karyawan tersebut, semakin tinggi pula gaji yang dia minta.

  3. Fasilitas yang menyertai gaji
    Beberapa perusahaan memiliki kebijakan untuk memberikan gaji pokok yang relatif kecil dibandingkan perusahaan lain untuk level jabatan yang sama, tetapi memberikan fasilitas yang lebih pada karyawannya. Fasilitas tersebut dapat berupa tunjangan, asuransi, dan beberapa fasilitas lainnya seperti rumah dan mobil. Seperti misalnya di salah satu perusahaan distribusi, memberikan gaji pokok yang lebih kecil dibandingkan perusahaan lainnya untuk untuk level supervisor keatas, tetapi perusahaan tersebut memberikan asuransi kesehatan pada karyawan dan keluarganya dengan pertanggungan yang sangat luas, asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang cukup memadai, serta beberapa kenikmatan lainnya.

  4. Kemampuan perusahaan
    Penentuan besaran gaji tentu tidak akan terlepas dari kemampuan perusahaan untuk membayar gaji seorang karyawan. Penentuan gaji dengan berdasar kemampuan perusahaan ini terutama terjadi pada usaha kecil. Hal ini biasanya karena cashflow dan pendapatan usaha yang belum begitu besar. Tetapi satu hal yang perlu Anda ingat sebagai seorang pemilik usaha: besaran gaji yang kita berikan dapat menentukan seperti apa kualitas tenaga kerja yang kita dapatkan. Ibarat kita memberi makan binatang, bila kita memberi ikan, ya kita akan mendapatkan kucing, tetapi bila kita memberi daging maka kita akan mendapatkan singa.

  5. Upah Minimum Regional
    Upah Minimum Regional atau UMR merupakan batas bawah upah yang seharusnya diberikan oleh suatu perusahaan pada karyawannya. Setiap daerah memiliki UMR yang berbeda-beda disesuaikan dengan standard hidup di daerah tersebut. Seperti misalnya, UMR di Jakarta saat ini adalah Rp 711 ribu per-bulan sementara UMR untuk Kotamadya Bogor adalah Rp 660 ribu. Untuk mengetahui berapa UMR di suatu daerah, Anda dapat mencari informasi dari Departemen Tenaga Kerja setempat.

Langkah-Langkah Merekrut Karyawan Untuk

Untuk memperoleh karyawan yang tepat dan berkualitas untuk jabatan yang dibutuhkan, terdapat beberapa langkah yang harus Anda lakukan:
  1. Buatlah uraian jabatan
    Setelah Anda menentukan karyawan untuk jabatan apa yang Anda butuhkan, maka langkah selanjutnya adalah membuat uraian atas jabatan tersebut. Uraian jabatan atau yang biasa disebut job description ini menguraikan tentang tugas dan tanggung jawab karyawan yang menduduki jabatan tersebut. Selain itu, dalam uraian jabatan ini disebutkan kepada siapa pemegang jabatan tersebut harus bertanggung jawab dan melaporkan hasil kerjanya.

    Contoh uraian jabatan:

    Sales Manajer: Bertanggung jawab atas perekrutan, training, koordinasi, dan supervisi semua sales representative. Memonitor sales pada area yang menjadi lingkup tanggung jawabnya. Membuat perencanaan penjualan tahunan. Membuat laporan penjualan tahunan dan melaporkannya pada Direktur Marketing.

  2. Buatlah spesifikasi jabatan
    Setelah Anda menentukan tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh karyawan, maka langkat berikutnya adalah membuat uraian spesifikasi jabatan tersebut, atau biasa disebut job specification. Spesifikasi jabatan merupakan uraian tentang ketrampilan dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang karyawan untuk menduduki suatu jabatan, termasuk di dalamnya pengalaman dan pendidikan yang diperlukan. Dengan spesifikasi jabatan tersebut berarti Anda telah menentukan standar dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelamar agar dapat bekerja di tempat Anda.

    Contoh spesifikasi jabatan:

    Sales Manajer: Pendidikan minimal S1 manajemen, pengalaman sebagai sales selama 4-5 tahun, berpengalaman dalam training sales, berpengalaman dalam bidang manajemen, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik.

    Mempersiapkan uraian dan spesifikasi jabatan merupakan suatu hal yang sering diabaikan oleh para entrepreneur. Padahal ini merupakan salah satu hal terpenting dalam suatu proses penerimaan karyawan karena uraian ini merupakan blue print bagi pekerjaan tersebut. Dengan membuat uraian dan spesifikasi jabatan sebelum Anda menerima karyawan, berarti Anda mengantisipasi terjadinya masalah karyawan di kemudian hari.

    Seperti yang terjadi pada Anto - seorang pengusaha garment. Dia pernah bercerita tentang kesalahannya dalam menerima karyawan di awal berdiri usahanya. Pada waktu memulai usaha, dia membutuhkan seorang karyawan untuk administrasi keuangan. Anto akhirnya menerima bekas teman sekolahnya dulu, meskipun dia tahu bahwa temannya itu tidak terlalu memenuhi persyaratan yang diinginkannya, tetapi waktu itu dia lebih senang menerima temannya karena sudah dikenal. Akibat menerima karyawan yang tidak qualified, maka beberapa pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh karyawan tersebut tidak mampu ditanganinya. Karena beberapa pekerjaan tidak ter-cover, maka terpaksa Anto mengambil karyawan satu lagi untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Tetapi Anto melakukan kesalahan yang sama: mengambil karyawan berdasar kenalan dan kepercayaan belaka, tanpa terlalu memikirkan kualitas karyawan tersebut.

    Permasalahan baru dirasakan setelah usaha tersebut semakin berkembang hingga saat ini. Sekarang Anto mulai merasa bahwa jumlah karyawan yang dimilikinya terlalu banyak dibanding beban kerja yang harus mereka pikul. Dia mulai berfikir dan menghitung-hitung bahwa sebetulnya pekerjaan yang dikerjakan oleh 2 orang karyawannya bisa dicover oleh satu karyawan dengan kualifikasi tertentu, dan biaya gajinyapun jadi lebih murah jatuhnya. Masalahnya, Anto merasa tidak mungkin memecat karyawan-karyawannya karena mereka sudah bekerja padanya selama bertahun-tahun, dan Anto mengenal mereka dan keluarganya secara pribadi.

  3. Strategi rekrutmen
    Setelah Anda mengetahui kebutuhan karyawan dalam perusahaan Anda, maka langkah berikutnya adalah mencari calon karyawan. Untuk mencari calon karyawan, Anda dapat menggunakan beberapa strategi, yaitu:

    • Mencari karyawan dari orang-orang yang dikenal
      Cara ini adalah cara yang paling mudah dan paling murah. Tetapi seperti telah dikemukakan di depan, cara ini lebih mengutamakan perasaan, dan tidak jarang mengabaikan kriteria dan kualifikasi calon karyawan yang dibutuhkan.

    • Menggunakan referensi dari pihak yang kita percaya
      Referensi ini bisa secara informal dari kolega kita, atau secara profesional menggunakan jasa headhunter seperti JobsDB atau Karir.com

    • Campus recruitment
      Cara ini biasa dilakukan bila karyawan yang kita butuhkan adalah fresh graduate dari kampus.

    • Iklan di Media Massa
      Dilakukan dengan memasang iklan lowongan kerja di media seperti koran lokal, iklan baris, radio, dsb.

  4. Persiapan wawancara
    Langkah berikutnya adalah mencari calon karyawan yang memenuhi syarat-syarat tersebut. Masing-masing perusahaan memiliki standar proses penerimaan yang tidak sama. Ada perusahaan yang mengharuskan pelamarnya melakukan tes psikologi terlebih dahulu, namun ada pula perusahaan yang merasa cukup dengan melakukan wawancara saja. Untuk usaha kecil menengah biasanya menggunakan cara kedua: melakukan wawancara saja. Selain karena cara ini yang paling sederhana, juga merupakan cara yang termurah dalam metode rekrutmen. Namun untuk mendapatkan hasil yang optimal, sebaiknya Anda mempersiapkan segala sesuatu sebelum Anda melakukan wawancara dengan calon karyawan Anda.

    Dalam melakukan suatu wawancara, Anda harus mengetahui hal apa terutama yang ingin Anda dapatkan dari wawancara tersebut. Kemudian persiapkanlah serangkaian pertanyaan untuk menggali informasi dari para calon karyawan.

    Pedoman berikut ini mungkin dapat digunakan untuk bantuan dalam menyusun pertanyaan:

    • Mengembangkan satu seri pertanyaan inti dan menanyakan pada setiap calon karyawan. Seri pertanyaan seperi ini berguna untuk membuat suatu proses penyaringan yang lebih konsisten.

    • Menanyakan pertanyaan terbuka seperti misalnya“ Ceritakan pengalaman Anda di bidang sales.” Pertanyaan jenis ini efektif karena mendorong calon karyawan untuk bicara. Usahakan tidak menanyakan pertanyaan dengan jawaban “ya” atau “tidak”.

    • Sampaikan suatu contoh kasus yang mungkin dijumpai calon karyawan dalam pekerjaannya, dan menanyakan bagaimana mereka menanganinya.

    • Minta calon karyawan untuk menceritakan pengalaman kerjanya selama ini. Hal ini untuk melihat apakah ada hal-hal dan spesifikasi yang Anda butuhkan yang sudah pernah dia kerjakan.

    • Meminta calon karyawan menjabarkan keberhasilan dan kegagalan terakhir, dan bagaimana mereka menanganinya. Dengan pertanyaan ini Anda akan mengetahui semangat dan optimisme dari para calon karyawan tersebut dalam menghadapi keberhasilan maupun kegagalan, dan apakah mereke dapat memetik pelajaran dari kegagalan mereka.

  5. Memeriksa referensi
    Salah satu prosesi dalam penerimaan karyawan adalah memeriksa referensi yang diberikan oleh pelamar. Memeriksa referensi merupakan salah satu hal yang penting dalam seleksi karyawan. Anda harus meluangkan waktu untuk memeriksa referensi yang diberikan oleh para calon karyawan.

    Sayangnya, banyak pemilik usaha berfikir bahwa memeriksa referensi merupakan suatu formalitas saja. Itu adalah suatu anggapan yang salah! Pemeriksaan referensi secara menyeluruh dapat membantu Anda untuk mengetahui mana informasi yang betul dari calon karyawan dan mana informasi yang salah dan dibesar-besarkan. Lebih bagus lagi bila Anda tidak hanya menghubungi referensi yang terdaftar pada lembar isian pelamar, tetapi hubungi juga atasan tempatnya bekerja dulu. Anda akan mendapatkan informasi yang jelas dan lengkap tentang pelamar tersebut.

  6. Wawancara
    Untuk mendapatkan informasi yang Anda butuhkan, yang tidak jarang merupakan informasi yang implisit, Anda perlu membuat suatu kondisi yang dapat membuat calon karyawan membuka diri. Dengan demikian memungkinkan Anda untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Untuk mencapai kondisi yang diinginkan, terdapat tiga tahap yang sebaiknya Anda lakukan, yaitu: memecahkan kebekuan (ice breaking), mengajukan pertanyaan dan menjual perusahaan pada calon karyawan.

    • Memecahkan kebekuan (ice breaking). Ini adalah tahap awal wawancara, dimana Anda sebagai pewawancara mencoba menurunkan kegugupan yang mungkin timbul baik dari pihak calon karyawan maupun mungkin dari pihak Anda. Cara yang biasa digunakan untuk ice breaking dalam wawancara antara lain dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai kegemaran dan minat khusus dari calon karyawan, agar mereka merasa santai. Dengan perasaan yang santai, biasanya mereka akan lebih mudah menjawab dan memberikan keterangan yang kita butuhkan.

    • Mengajukan pertanyaan. Selama tahap ini Anda mengajukan pertanyaan untuk melihat apakah pelamar tersebut cocok untuk pekerjaan tersebut ataukah tidak. Pada bagian ini Anda akan lebih banyak menjadi pendengar. Untuk membantu Anda dalam mengingat dan memberikan pertanyaan lanjutan, ada baiknya Anda mencatat beberapa poin, dari apa yang disampaikan oleh pelamar, yang Anda rasa penting.

    • “Menjual perusahaan” pada calon karyawan. Menjual dalam hal ini berarti menawarkan hal-hal menarik pada perusahaan pada calon karyawan sehingga dia tertarik untuk bergabung pada bisnis Anda. Mungkin Anda berfikir: “Lho? Apa ga kebalik?” Tidak! Terhadap calon karyawan yang masuk kualifikasi, Anda perlu menawarkan perusahaan Anda padanya. Karena meskipun dia sebagai pelamar, tetap saja keputusan akhir dia bekerja atau tidak di perusahaan Anda adalah di tangan calon tersebut. Lagipula Anda mesti ingat, bahwa seorang calon yang berkualitas mungkin saja ditawari pula perusahaan lain. Oleh karena itu, bila Anda sudah menemukan calon yang Anda inginkan, maka Anda perlu “menawarkan” padanya tentang perusahaan Anda, sehingga dia tertarik untuk bekerja di perusahaan Anda. Tahap ini biasanya dimulai dengan membiarkan calon karyawan mengajukan pertanyaan seputar prusahaan, pekerjaan yang akan dilakukan dan sebagainya.

17 Januari 2009

Menerima Karyawan Yang Tepat

Pada saat usaha Anda sudah mulai berkembang, pelanggan sudah banyak, dan Anda merasa mulai kewalahan menangani semuanya sendiri, maka pada saat itulah Anda mulai membutuhkan karyawan. Tetapi yang menjadi pertanyaan kemudian adalah karyawan seperti apa yang Anda butuhkan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu Anda harus melihat kebutuhan usaha Anda, apakah Anda membutuhkan seorang tenaga pembukuan karena Anda tidak sempat lagi membuat pembukuan, ataukah seorang tenaga marketing untuk membantu Anda meningkatkan penjualan, atau karyawan di bidang lainnya. Hal ini sepenuhnya harus Anda sesuaikan dengan kebutuhan usaha Anda.

Bagaimana caranya mengetahui kebutuhan tenaga kerja di usaha kita? Cara yang paling mudah adalah dengan melihat pekerjaan mana yang tidak terselesaikan karena mengerjakan pekerjakan yang lain. Bila ada salah satu bidang pekerjaan yang tidak sempat lagi Anda kerjakan, berarti kemungkinan Anda memang membutuhkan karyawan di bidang tersebut.

Tetapi ada cara yang lebih baik lagi daripada cara diatas, yaitu dengan menyesuaikan pada program kerja dan target usaha yang telah Anda buat. Misalnya, bila Anda menargetkan mencapai jumlah penjualan tertentu hingga akhir tahun ini, maka Anda harus memperkirakan apakah yang harus Anda lakukan untuk mencapai target tersebut.

Apakah Anda harus membuat suatu promosi untuk produk Anda, ataukah Anda perlu menambah tenaga penjualan untuk membantu Anda mencapai target tersebut, dan apakah tenaga kerja di bidang-bidang yang mendukung pencapaian target tersebut sudah cukup memadai, apakah Anda perlu seorang aministrasi marketing untuk pencatatan penjualan, begitu seterusnya.

Keputusan untuk menerima seorang karyawan baru merupakan keputusan penting bagi setiap usaha, karena menerima karyawan bukanlah keputusan sesaat saja, tetapi merupakan awal dari komitment jangka panjang. Bahkan dalam lingkup usaha kecil sekalipun, keputusan penerimaan karyawan bisa memberikan dampak yang sangat besar bagi jalannya usaha. Hal ini karena pada akhirnya orang-orang yang bekerja pada perusahaan itulah yang akan menentukan seberapa jauh usaha tersebut akan maju dan berkembang atau sebaliknya, mereka juga menentukan seberapa dalam usaha tersebut akan jatuh.

Melihat begitu pentingnya peran karyawan dalam suatu perusahaan, maka sebaiknya setiap pengusaha berusaha untuk mendapatkan karyawan yang terbaik dan berkompeten di bidangnya. Namun sayangnya, hal yang sering terjadi pada usaha kecil adalah pemilik usaha biasanya lebih suka mengambil tenaga kerja dari orang-orang yang dikenal atau yang dipercaya daripada menerima karyawan yang potensial tetapi tidak dikenal.

Bukan hal yang salah bila Anda, sebagai seorang entrepreneur, melakukan hal tersebut. Sah-sah saja Anda mempekerjakan orang-orang di sekitar Anda yang Anda kenal dan percayai. Yang salah adalah bila karena Anda kenal dan percaya pada seseorang, maka Anda kemudian menerima mereka tanpa memperdulikan apakah mereka mampu mengemban tugas tersebt atau tidak.

Mengembangkan Daya Saing

Daya saing (competitive edge) sangatlah penting dalam keberhasilan suatu usaha. Suatu usaha dikatakan memiliki daya saing bila pelanggannya memperoleh kesan bahwa produk atau jasa tersebut lebih baik daripada produk / jasa yang ditawarkan pesaing. Untuk menciptakan persepsi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan:
  • Menawarkan harga terendah
    Cara ini adalah cara paling mudah , karena pelanggan juga bisa langsung membandingkan. Tetapi cara ini juga mengandung resiko karena bila semua menggunakan cara ini, maka akan terjadi perang harga yang akan merugikan Anda sebagai pemilik usaha. Selain itu, cara ini biasanya paling efektif dilakukan pada segmen yang sensitive terhadap harga.

  • Membangun kedekatan (relationship) dengan para pelanggan
    Cara ini merupakan cara yang relative lebih murah daripada cara pertama. Dengan membangun kedekatan dengan para pelanggan maka biasanya pelanggan akan mengingat Anda bila membutuhkan produk/jasa yang Anda tawarkan.

  • Penitikberatan pada pelayanan
    Pelayanan yang bagus dan menyenangkan akan membuat pelanggan Anda betah dan akan kembali lagi kepada Anda.

  • Keluwesan organisasi / manajemennya
    Dalam hal ini yang dimaksud adalah keluwesan dalam menerima komplain dari pelanggan. Misalnya, Toko A bersedia menerima dan menukarkan kembali barang yang sudah dibeli dengan jangka waktu tertentu dan persyaratan tertentu, sementara Toko B sama sekali tidak bersedia menerima komplain atas barang yang sudah dibeli. Dengan pelayanan dan harga yang sama biasanya pelanggan akan lebih memilih berbelanja di Toko A daripada di Toko B.
Terdapat enam hal penting dalam mengembangkan daya saing untuk mencapai tingkat kepuasan pelanggan yaitu:
  1. Focus pada pelanggan
    Perlu Anda ingat, bahwa inti dari usaha Anda adalah pelanggan. Oleh karena itu setiap gerak dan pengembangan usaha Anda harus selalu difokuskan pada pelanggan Anda.

  2. Mempertahankan mutu
    Salah satu kesulitan dalam usaha yang mulai berkembang adalah mempertahankan mutu produk/jasa. Biasanya pada usaha yang sedang berkembang order mulai melimpah sementara sumber daya masih terbatas, sehingga biasanya akan berpengaruh pada mutu produk/jasa yang dihasilkan. Bila Anda berhasil tetap memepertahankankan mutu produk/jasa Anda maka niscaya pelanggan Anda akan tetap setia pada Anda.

  3. Memperhatikan kenyamanan
    Bila Anda menyediakan suatu tempat bagi pelanggan Anda untuk mendapatkan prioduk Anda, seperti misalnya sebuah toko atau outlet, maka sebaiknya Anda memperhatikan kenyamanan pelanggan Anda selama berbelanja. Perasaan nyaman itu akan membuat pelanggan Anda betah berlama-lama di toko Anda dan dengan demikian diharapkan akan membuat mereka membeli lebih banyak atau akan kembali lagi kemudian hari.

  4. Konsentrasi terhadap inovasi
    Sebaiknya Anda selalu mencari dan mengembangkan hal-hal baru pada produk/jasa Anda. Hal-hal yang baru diharapkan akan menarik perhatian pelanggan Anda.

  5. Pelayanan
    Pelanggan, dimanapun, menyukai pelayanan yang cepat, ramah dan menyenangkan. Oleh karena itu selalu berikan pelayanan yang terbaik pada para pelanggan Anda.

  6. Kecepatan
    Kecepatan layanan merupakan salah satu kunci kepuasan bagi pelanggan.
Salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan daya saing terutama dalam menghadapi pesaing yang besar adalah dengan relationship marketing (pemasaran relasional). Secara singkat, relationship marketing adalah proses pengembangan dan pemeliharaan hubungan jangka panjang dengan pelanggan sehingga mereka tetap kembali berbelanja.


KeteranganRelation marketingTransaksi penjualan
Lama waktuTerus menerusAwal & akhir jelas: transaksi
Konsep kunciKerja samaNegosiasi
Digerakkan olehKesungguhan & kepercayaanMenghasilkan laba dalam transaksi jangka pendek
GayaSaling bergantung satu sama lainTidaksaling bergantung
Implikasi rencana bisnisMembangun jaringan hubungan dengan pemasok dan pelanggan yang dapat diandalkan yang mengarah pada keuntungan jangka panjangMaksimumkan laba jangka pendek membuat laba akhir tampak baik tanpa memperdulikan biaya jangka panjangnya
Keunggulan utamaPengetahuan yang akrab mengenai kebutuhan, keinginan dan kesukaan pelangganTunai di tangan
Kelemahan utamaKebergantungan dengan pihak lain dalam jaringan hubunganKehilangan penjualan bila pesaing memberikan tawaran yang lebih menarik
LandasanBerdasar pengethuanOrientasi laba
RamalanPopularitas meningkatMenuju kemerosotan

01 Januari 2009

Prinsip-prinsip Selling

Esensi dari menjual (selling) adalah menjelaskan bagaimana dan mengapa produk / service yang Anda tawarkan dapat berguna bagi pelanggan Anda. Sebagai seorang entrepreneur, Anda harus dapat menjual produk/service Anda kepada Pelanggan. Berikut beberapa prinsip selling yang dapat Anda gunakan:

  • Tampilkan personal impression yang baik.
    Pada waktu Anda menawarkan produk/service Anda, Anda harus memberikan kesan yang baik pada pelanggan. Persiapkan diri Anda sebaik-baiknya, tampillah dengan rapi dan bersih.

  • Pandanglah menjual seperti mengajar.
    Jelaskan produk Anda dengan senang hati pada pelanggan.

  • Percayalah pada produk/ jasa Anda.
    Saat Anda menjual suatu produk/jasa, maka Anda harus mempercayai bahwa produk/ jasa yang Anda tawarkan memang berguna. Kepercayaan Anda akan mempengaruhi penyampaian Anda kepada pelanggan. Dan jangan salah, pelanggan biasanya dapat merasakan perbedaan antara penjual yang mempercayai produknya dengan penjual yang asal menjual saja.

  • Pahamilah produk/ jasa Anda.
    Produk/jasa Anda adalha modal utama Anda, karena itu yang Anda tawarkan kepada pelanggan Anda. Oleh karena itu Anda harus menguasai dan memahaminya.

  • Pahami medan yang Anda hadapi, seperti misalnya pesaing Anda.
    Ibarat Anda akan berperang, maka Anda harus mengetahui medan yang akan Anda hadapi. Dengan mengetahui medan yang akan dihadapi, maka Anda akan lebih siap dalam menghadapi segala kemungkinan.

  • Pahamilah pelanggan Anda.
    Ketahui dan pahamilah apakah yang dibutuhkan oleh pelanggan Anda, dan bagaimana produk/jasa Anda dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

  • Berpikirlah positif.
    Tidak setiap penawaran yang Anda lakukan pasti akan tercapai kesepakatan penjualan produk/ jasa Anda. Ada kalanya Anda akan mengalami penolakan dari calon pelanggan Anda. Positive thinking akan membuat Anda siap menghadapi penolakan yang mungkin terjadi dari calon pelanggan Anda.

  • Buatlah catatan.
    Sebaiknya Anda membuat catatan tentang hal-hal penting, antara lain tentang invoices (tagihan) dan kwitansi pembayaran.

  • Buatlah janji terlebih dahulu.
    Sebelum Anda menemui calon pelanggan Anda, sebaiknya Anda membuat janji terlebih dahulu. Karena biasanya orang akan lebih nyaman mendengarkan tawaran dari sales bila mereka memang telah menyediakan waktu untuk itu.

  • Selalu kontak dengan pelanggan dan calon pelanggan potensial Anda.
    Bila Anda telah melakukan penjualan, sebaiknya Anda selalu memaintain pelanggan Anda tersebut, misalnya dengan mengirim kartu ucapan ulang tahun, dan sebagainya. Intinya, jangan sampai Anda putus hubungan dengan pelanggan Anda.

Media massa yang bisa digunakan untuk beriklan

Media massa yang bisa digunakan untuk beriklan antara lain:
  • Media Cetak
    Media cetak seperti misalnya koran, tabloid, majalah, buletin, dsb. Jangkauannya tergantung dari masing-masing media yang bersangkutan. Ada yang difatnya lokal, regional,nasional, bahkan internasional. Jenis iklan yang bisa dipasang antara lain:
    1. Iklan baris
    2. Iklan kolom/ spot
    3. Advertorial
    Iklan di media massa biasanya dihitung dari ukuran iklannya (mmk)

  • Radio
    Radio bersifat lokal sehingga sangat tepat untuk mengiklankan suatu produk/ jasa yang sifatnya masih belum mampu menjangkau distribusi secara meluas. Pemasangan iklan dihitung per spot (+ 30 detik)

  • Televisi
    Televisi bisa bersifat lokal, nasional, maupun langganan (TV Kabel). Tarif iklannya relatif mahal dan pemasangannya dihitung per spot (+ 30 detik).

  • Internet
    Anda dapat memasang banner usaha Anda pada beberapa website. Atau Anda dapat mngirimkan penawaran usaha Anda pada milis yang saat ini banyak sekali macamnya. Cara ini merupakan cara yang cukup murah karena Anda tinggal mendaftarkan diri menjadi anggota milis tersebut dan kemudian Anda bebas mengirim email secara gratis.

Iklan yang Efektif

Iklan yang efektif memuat setidaknya 3 hal penting, yaitu informasi mengenai :
  1. Harga
  2. Penjelasan mengenai produk dan jasa Anda
  3. Lokasi dimana produk/ jasa itu bisa didapat