15 Oktober 2008

Usaha Menggantikan Barang Bermerek Valentina Asjari Taroreh

Banyak orang bilang setiap peristiwa pasti ada sisi baik ataupun sisi buruknya. Seburuk-buruknya sebuah peristiwa, pasti dia mempunyai sisi baik yang bisa membuat seseorang berkembang lebih maju lagi. Terutama bagi mereka yang jeli melihat peluang atau dapat memanfaatkan peristiwa tersebut.

Demikian juga yang dialami Valentina Asjari Taroreh (40), pengusaha tas, sepatu, dan baju khusus untuk perempuan. “Mulanya, ya, karena krisis moneter (krismon) itu. Saya lihat banyak orang yang senang barang-barang berkualitas, tetapi tidak mampu membelinya karena krismon. Lalu saya pikir, karena saya tidak menyediakan barang-barang bagus dengan harga terjangkau,” cetus pemilik merek Bless yang mulai berbisnis tahun 1999 ini.

Kebutuhan akan barang-barang bagus ditangkap Valentina karena teman-temannya sering mengeluh tidak lagi bisa membeli tas-tas bermerek dari luar negeri karena devaluasi rupiah. Mereka ingin tetap tampil gaya, tetapi harga barang-barang sudah melayang jauh.

Ibu empat anak ini melihat peluang bisnis, juga karena dia merasa hampir tidak mempunyai kesibukan “setelah anak-anaknya besar, perhatian yang mereka butuhkan tak sebesar sewaktu masih kanak-kanak. Akibatnya, saya nyaris tidak punya kegiatan. Mungkin saya bisa jalan-jalan ke mal atau ke tempat lain, tetapi masak mau begitu terus. Jadi, harus ada kegiatan positif yang saya lakukan,” ujar ibu dari anak berusia 17, 11, 9 dan 8 tahun ini.

Setelah melihat adanya waktu luang, Valentina mulai membuat tas. Awalnya ia hanya membuat tas untuk dirinya sendiri. Lama kelamaan ada temannya yang tertarik dan ingin memiliki tas buatan Valentina. Pertama cuma satu orang, tetapi setelah itu teman yang minta dibuat tas semakin banyak. Di sinilah Valentina melihat peluang bisnis. Dikarenakan tas buatan Valentina bagus dan harganya terjangkau, teman-temannya merasa senang.

Setelah melihat adanya kebutuhan-kebutuhan tas, Valentina juga melihat adanya kebutuhan sepatu atau sandal untuk ukuran besar. Kebutuhan ini muncul dari dirinya sendiri. Kaki Valentina yang berukuran nomor 41 sangat sulit mencari sepatu atau sandal.

“Kalau mencari di mal atau di toko, ukuran sandal paling besar untuk perempuan hanya sampai 40. Kalaupun ada, modelnya belum tentu cocok. Lalu saya punya ide, kenapa tidak saya buat saja sandal atau sepatu berdasarkan ukuran masing-masing orang. Jadi, tidak membuat masalah dengan ukuran yang sama,” kata Valentina.

Ternyata keluhan Valentina tidak menjadi miliknya sediri. Banyak teman Valentina yang mempunyai keluhan sama. “Kaki setiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang kakinya ukuran 38, tetapi besar di bagian atas sehingga memerlukan tutup sepatu berukuran 39. Di toko, kalau ukuran solnya 38, pasti ukuran bagian atas juga 38. Hal ini yang sering membuat orang sulit menemukan sepatu yang cocok,” kata Valentina.

Ide membuat sepatu dengan ukuran yang personal, disertai tas senada dengan sepatu, ternyata mendapat sambutan baik. Setiap kali Valentina membuat sebuah model baru, pasti banyak yang memesan. “Tetapi, mereka memesan dengan bentuk yang berbeda. Jadi, dari satu model biasanya saya pecah menjadi beberapa model. Jadi, tidak ada pelanggan yang memiliki sepatu yang persis sama. Entah itu warna atau modelnya yang saya modifikasi, pasti ada perbedaannya. Biar pelanggan tidak merasa miliknya sama dengan orang lain,” kata Valentina, yang menyiapkan model-model hak sepatu dan gagang tutup tas di bengkelnya sehingga memudahkan pelanggan memilih.

Valentina yang memiliki dua butik, di Kemang dan di Mal Kelapa Gading 3, selalu mengerjakan pesanan pelanggan di bengkel sekaligus rumah tinggalnya di kawasan Condet, Jakarta Timur. Di bengkel itu terpajang puluhan sepatu dan tas contoh. Biasanya pelanggan datang dan memilih model serta warna yang diinginkan, lalu diukur sesuai keinginannya. “Makanya, saya tidak pernah memproduksi barang dalam jumlah banyak karena yang saya pamerkan hanya barang contoh. Kalau ada pesanan, baru dibuatkan yang lain,” ujar Valentina, yang mengobral barang contoh setiap akhir tahun.

Dalam merancang model sepatu atau tas, Valentina melakukannya kapan saja. Apa saja bisa menjadi inspirasi bagi Valentina. Contohnya, ketika menyantap ketupat pada hari Lebaran lalu, Valentina terinspirasi untuk membuat sepatu dan tas dengan model anyam seperti ketupat. Namun, berhubung sekarang mendekati Hari Natal, Valentina membuatnya dengan warna khas Natal, yakni merah dan hijau. “Model ini sebentar lagi akan saya pamerkan di butik. Saya juga menyiapkan sepatu lain dengan warna-warna berbeda. Tetapi, setiap modelnya akan dibuat satu pasang saja,” ujar Valentina.

Soal merancang model baru ini, Valentina mengatakan harus dilakukan terus-menerus karena model pun selalu berkembang. “Fashion itu seperti makanan, cepat sekali menjadi basi. Kalau tidak ada pembaharuan terus-menerus, bisa ditinggal pelanggan,” katanya menegaskan.

Pembaharuan ini diakui Valentina agak sulit, karena selain harus melihat selera pasar, juga mesti ada sesuatu hal yang baru. Produknya harus berbeda dengan produk sejenis, agar pelanggan selalu mau datang kembali. Oleh karena itu, Valentina membuat lukisan pada tas dan sepatunya. Model pertama lukisannya adalah anak laki-lakinya. Sekarang tidak hanya wajah anak yang menjadi model, tetapi juga binatang dan pemandangan. Lukisan tersebut lalu dipadukan dengan mote dan payet agar tampak hidup dan gemerlap.

“Ide lukisan ini adalah ide saya sendiri. Tetapi, yang membuatnya bukan saya, melainkan tukang. Saya sendiri tidak melukis,” kata Valentina yang dibantu dua pelukis.

Semula Valentina memiliki 50 karyawan. Namun, sekarang dia hanya memiliki 35 karyawan. “Setelah saya evaluasi, ternyata banyak inefisiensi di bengkel saya. Banyak tenaga, tetapi pekerjaan yang dihasilkan hanya sedikit. Mereka jadi saling mengandalkan kawannya. Akhirnya pekerjaan justru jadi terbengkalai. Setelah saya lakukan efisiensi tenaga kerja, sekarang bisa berjalan baik,” ujar Valentina.

Mengenai karyawan, Valentina mengaku sangat terbantu dengan keberadaan mereka. Namun, dia masih merasa kesulitan karena sering terjadi salah pengertian antara dia dan karyawan dalam menghasilkan produk. Akibatnya, Valentina harus melakukan kontrol terus-menerus.

“Sering terjadi, saya mintanya A, tetapi jadinya B. Kalau sudah begitu, barang itu tidak terpakai karena itu barang pesanan. Pemesannya mana mau menerima barang yang berbeda dengan pesanan. Terpaksa saya harus membuat yang baru lagi,” kata Valentina.

Sebenarnya Valentina ingin memiliki seorang pengawas yang bisa menjembatani keinginannya dengan karyawan. Maksudnya, agar Valentina bisa berkonsentrasi pada rancangan saja, tidak harus sampai pada pengawasan produknya. Namun, sampai sekarang dia belum menemukan orang yang cocok.

Sumber: Kompas Minggu 7 Desember 2003

14 Oktober 2008

Beberapa Ancaman Kegagalan Small Business

Ketidakmampuan Manajemen
Dalam kebanyakan bisnis kecil, kurangnya pengalaman manajemen atau lemahnya pengambilan keputusan merupakan masalah utama dari kegagalan usaha. Kadang-kadang manajer bisnis kecil tidak memiliki kemampuan untuk menjalankannya dengan berhasil. Pemiliknya kurang memiliki kepemimpinan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membuat bisnis berjalan.

Kurangnya Pengalaman
Manajer-manajer bisnis kecil perlu memilliki pengalaman dalam bidang yang akan dimasukinya.

Lemahnya Kendali Keuangan
Manajemen yang sehat adalah kunci perusahaan kecil, dan manajer yang handal menyadari bahwa semua keberhasilan bisnis memerlukan kendali keuangan yang pantas. Dua kesalahan keuangan yang sering trejadi di perusahaan kecil: kekurangan modal dan kelemahan dalam kebijakan kredit terhadap pelanggan.

Gagal Mengembangkan Perencanaan Strategis
Terlalu banyak manajer bisnis kecil yang mengabaikan perencanaan strategis, karena mereka mengira hal tersebut hanya bermanfaat untuk perusahaan besar. “Saya tidak punya waktu” atau “Kami terlau kecil untuk mengembangkan perencanaan strategis,” kata mereka mencari alasan.

Pertumbuhan Tak Terkendali
Pertumbuhan merupakan sesuatu yang alamiah, sehat dan didambakan oleh semua perusahaan, tetapi pertumbuhan haruslah terencana dan terkendali.

Lokasi yang Buruk
Untuk bisnis apapun, pemilihan lokasi yang tepat untuk sebagian merupakan suatu seni—dan sebagian lagi ilmu.

Pengendalian Persediaan yang Tidak Baik
Umumnya, investasi terbesar yang harus dilakukan manajer bisnis kecil adalah dalam persediaan, namun pengendalian persediaan adalah salah satu tanggung jawab manajerial yang paling sering diabaikan.

Ketidakmampuan Membuat Transisi Kewirausahaan
Berhasil melewati “tahap awal kewirausahaan” bukanlah awal jaminan keberhasilan bisnis. Setelah berdiri, pertumbuhan biasanya memerlukan perubahan gaya manajemen yang secara drastis berbeda. Kemampuan-kemampuan yang tadinya membuat seorang entrepreneur berhasil sering kali mengakibatkan ketidakefektifan menajerial.

Beberapa Cikal bakal yang lazim dari Entrepreneurship & Small Business

Part Time-Entrepreneurship
Memulai bisnis sambilan/ paruh waktu merupakan pintu masuk yang populer untuk menjadi entrepreneurship. Entrepreneur part-time mendapatkan yang terbaik dari kedua dunianya: yaitu bekerja pada orang lain dan membuka bisnis sendiri. Mereka dapat masuk ke dalam bisnis tanpa mengorbankan keamanan, pendapatan, dan fasilitas tetap dari bekerja. Hampir 13 juta orang Amerika adalah orang yang secara penggal waktu bekerja untuk dirinya sendiri. Keuntungan utama dari bisnis sambilan ini adalah resiko yang lebih rendah apabila terjadi kegagalan usaha. Banyak pengusaha macam ini “menguji suasana kewirausahaan” untuk melihat apakah gagasan bisnis mereka berhasil dan apakah mereka menikmati usaha mandiri itu. Dengan berkembangnya usaha mereka, pengusaha sambilan ini menghabiskan lebih banyak waktu untuk bisnisnya sampai akhirnya terbentuk bisnis yang sepenuhnya dan dia keluar dari pekerjaannya.
Memulai Bisnis dari Rumah
Bisnis di rumah (home-based business) berkembang cepat. Di masa lalu, bisnis di rumah cenderung berupa industri rakyat yang tidak menarik seperti kerajinan atau menjahit. Sekarang bisnis di rumah lebih beragam seiring dengan kemajuan teknologi seperti internet, mobile devices, dll.
Bisnis Keluarga
Bisnis keluarga adalah suatu bisnis yang melibatkan dua atau lebih anggota keluarga yang mengendalikan keuangan perusahaan. Perusahaan keluarga adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perekonomian suatu negara, apalagi di Indonesia. Banyak bisnis besar di negeri ini berawal dari bisnis keluarga seperti Grup Gudang Garam, Sampoerna, dsb. Di negara maju pun begitu. Dari 21 juta bisnis di Amerika Serikat, 90 persen dimiliiki dan dikelola oleh keluarga. Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 50 juta orang dan menghasilkan 55 persen produk domestik bruto Amerika. Hebatnya lagi, sepertiga perusahaan yang masuk daftar Fortune 500 adalah perusahaan keluarga.

10 Oktober 2008

Beberapa Kelemahan Entrepreneurship

Meskipun pemilik bisnis mendapatkan banyak keuntungan dan memperoleh banyak peluang, siapapun yang berencana memasuki dunia entrepreneurship harus menyadari adanya potensi kekurangan. Ingatlah “Bila Anda tidak 100 persen pasti ingin memiliki suatu usaha, akan ada banyak ajakan untuk dan halangan yang melarang Anda untuk mendirikan bisnis.”

  • Pendapatan yang tidak pasti
Membuka dan menjalani sebuah bisnis baru tidak langsung memberi jaminan bahwa entrepreneur yang menghasilkan cukup uang untuk hidup. Beberapa perusahaan kecil sangat sulit memperoleh cukup pendapatan agar dapat membayar pemilik-manajernya secara layak. Dalam awal usaha, pemilik sering menghadapi masalah kewajiban keuangan dan hidup dari tabungan. Belum lagi, pemiliik usaha adalah orang terakhir yang menerima gaji. Jadi, jangan menjadi entrepreneurship semata-mata karena uang, dijamin Anda akan gagal!!
  • Resiko kehilangan seluruh investasi
Tingkat kegagalan bisnis kecil relatif tinggi. Menurut penelitian, 24 persen bisnis baru gagal dalam waktu 2 tahun, dan 51 persen tutup dalam waktu 4 tahun. Setelah 6 tahun, 63 persen bisnis baru akan gulung tikar. Penelitian juga menunjukan bila sebuah perusahaan menciptakan paling tidak satu pekerjaan di awal tahun, mungkin kegagalan setelah 6 tahun merosot menjadi 35 persen.
  • Kerja lama dan kerja keras
Memulai bisnis sering menjadi suatu jadwal mimpi buruk!! Gambar 1.1 menunjukkan bahwa pemilik bisnis harus bekerja 60 jam per minggu dan seperempatnya harus bekerja lebih dari 70 jam per minggu! Dalam banyak hal, enam atau tujuh jam kerja tanpa uang lembur di hari libur merupakan hal yang biasa. Sering terjadi bila bisnis tutup, maka pelanggan akan pergi ke tempat lain. “Meskipun bisnis itu milik Anda sendiri, Anda tetap bekerja untuk orang lain yaitu pelanggan dan klien Anda,” kata Jill Stenn, mitra pendiri bisnis perencanaan tata ruang.
  • Mutu hidup yang lebih rendah sampai bisnis mapan
Kerja panjang dan kerja keras yang diperlukan untuk mendirikan bisnis akan menyita waktu istirahat – dan seringkali waktu bersama keluarga- dari si entrepreneur. Karena itu sangat bagus untuk memulai bisnis sedari muda selagi belum berkeluarga.
  • Ketegangan mental yang tinggi
Memulai dan mengelola suatu bisnis merupakan pengalaman yang luar biasa, tetapi juga dapat merupakan suatu ketegangan mental yang tinggi. Entrepreneur sering menanamkan modal yang besar dalam perusahaan di luar keamanan dan kemampuan keuangannnya serta menggadaikan segala sesuatu yang dimiliki untuk usahanya. Kegagalan berarti kehancuran keuangan, dan itu menciptakan tingkat ketegangan dan kekhawatiran yang tinggi!
  • Tanggung jawab penuh
Memang hebat menjadi bos sendiri, tetapi banyak entrepreneur harus membuat keputusan untuk hal-hal yang tidak benar-benar dikuasainya. Bila tidak ada seorang pun tempat bertanya, ketegangan dapat terbentuk dengan cepat. Menyadari bahwa keputusan yang diambil adalah penyebab keberhasilan atau kegagalan akan mengakibatkan dampak yang merusak pada beberapa orang. Pemilik bisnis kecil dengan cepat menyadari bahwa mereka sendirilah bisnisnya.

Beberapa Kelebihan Entrepreneurship

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh seseorang Entrepreneurship adalah sebagai berikut :
  • Peluang mengendalikan nasib Anda sendiri
Memiliki suatu bisnis memberikan kebebasan dan peluang pada entrepreneur untuk mencapai sasaran yang penting baginya. Para entrepreneur ingin menjadi “pemberi aba-aba” dalam hidup mereka, dan menggunakan bisnisnya untuk mewujudkan keinginannya dalam hidup. Mereka meraih kepuasan pribadi dengan menyadari bahwa mereka sendirilah daya dorong di balik bisnis mereka.

  • Kesempatan melakukan perubahan
Semakin banyak entrepreneur yang memulai bisnis karena mereka melihat kesempatan untuk membuat perubahan yang menurut mereka penting, misalnya mengatasi pengangguran di Indonesia. Para entrepreneur kini menemukan cara untuk mengkombinasikan keprihatinan mereka terhadap masalah-masalah sosial dengan keinginan untuk menjalani kehidupannya yang lebih baik.

  • Peluang untuk menggunakan potensi sepenuhnya
Terlalu banyak orang yang merasakan bahwa pekerjaan mereka membosankan, tidak menantang, dan tidak menarik. Kebanyakan entrepreneur tidak banyak perbedaan antara kerja dan bermain game; keduanya sama saja. Bisnis-bisnis yang dimiliki para entrepreneurmerupakan alat untuk aktualisasi diri. Tim McDonald, yang pada usia 31 telah mendirikan beberapa perusahaan, menjelaskan, “Saya ingin berada dalam situasi dimana pertumbuhan Anda hanya dibatasi oleh bakat dan kekuatan Anda sendiri –dan itu berarti situasi kewirausahaan.

  • Peluang untuk meraih keuntungan tanpa batas
Meskipun uang bukan daya dorong utama bagi wirausahawan, keuntungan dari bisnis mereka penting sebagai faktor motivasi dalam memutuskan pendirian bisnis. Sebagian besar dari 64 entry dengan nilai bersih di atas $ 1 milyard pada Forbes 400 merupakan daftar para entrepreneur terkaya yang memulai bisnis mereka sendiri.

  • Peluang melakukan sesuatu yang Anda sukai
Yang umum dirasakan para pemilik bisnis kecil adalah bahwa kegiatan kerja mereka sesungguhnya bukanlah kerja. Kebanyakan entrepreneur yang berhasil memilih masuk dalam bisnis tertentu, sebab mereka tertarik dan menyukai pekerjaan tersebut. Mereka membuat kegemaran mereka menjadi pekerjaan mereka dan mereka senang bahwa mereka melakukannnya! Para entrepreneur ini melakukan nasihat Harvey McKay: “Carilah pekerjaan yang Anda sukai dan Anda tidak akan pernah harus bekerja seharipun dalam hidup Anda.”

Perubahan Sikap Mental Entrepreneur

Ada beberapa kondisi tertentu yang dihadapi entrepreneur namun tidak dihadapi oleh mereka yang bekerja sebagai ‘orang gajian’. Kondisi-kondisi khusus ini tentu membutuhkan sikap mental tertentu pula. Sikap mental ini nantinya harus dipersiapkan oleh para calon young entrepreneur. Persiapan ini dilakukan sebelum mulai membuka usaha, dan yang lebih penting juga terus-menerus dilakukan setelah menjalani usaha tersebut. Beberapa sikap mental itu secara singkat akan diulas pada bagian berikut ini.

  • Kesiapan menghadapi ketidakpastian
Jika Anda memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur Anda harus mempersiapkan mental Anda untuk menghadapi yang namanya ketidakpastian. Seorang pengusaha akan selalu berhadapan dengan ketidakpastian mengenai pemasukan usaha setiap harinya. Disini Anda sebagai calon pengusaha dituntut untuk mampu mempersiapkan mental supaya siap dengan segala ketidakpastian yang mungkin terjadi.

Tentu saja, tingkat ketidakpastian untuk masing-masing jenis usaha berbeda-beda. Misalkan saja usaha warung kelontong atau warung makan mungkin tingkat ketidakpastiannya lebih rendah daripada usaha yang sifatnya temporer atau proyek seperti event organizer, wedding organizer atau jasa desain grafis.
  • Pantang mengatakan ‘tidak bisa’
Kawan saya Rina, seorang entrepreneur, pernah mengatakan bahwa salah satu prinsip yang dianutnya dalam hal melayani pelanggan adalah pantang mengatakan ‘tidak bisa’. Yang dimaksud disini adalah, sepanjang pelanggan bersedia membayar dengan harga yang pantas maka dia akan mencarikan sekuat tenaga apa yang diinginkan oleh pelanggan. Misalkan saja, ketika pelanggan datang dan truk angkutannya sudah terpakai semua, maka dia akan menyewa truk milik orang lain supaya barang milik pelanggan ini bisa terangkut.

Dalam banyak bidang usaha lain, hal ini pun seringkali terjadi. Apalagi pada saat awal usaha Anda berdiri dengan segala keterbatasannya. Seringkali pelanggan datang untuk meminta layanan yang berada di luar kemampuan Anda saat itu. Saat itulah Anda dihadapkan dengan dilema untuk menerima atau menolak pelanggan tersebut. Jika Anda menolaknya, maka pelanggan tersebut akan pergi dan tidak akan kembali lagi karena usaha Anda dianggap tidak bonafid. Tetapi jika Anda menerimanya, maka ada kemungkinan Anda akan kesulitan memenuhi permintaannya. Disini Anda sebagai entrepreneur dituntut untuk mampu berpikir cepat.

Saran saya, cobalah sekuat tenaga untuk bisa memenuhi permintaan itu apapun caranya. Jangan terburu-buru menyerah dan mengatakan tidak bisa. Jika Anda mampu memenuhi permintaan itu, besar kemungkinan pelanggan itu akan loyal pada Anda dan memberitahukan ke orang lain. Sebaliknya, jika dia merasa kecewa, maka dia bukan hanya akan meninggalkan Anda, tapi bisa juga menyebarkannya ke orang lain.
  • Sikap mental ‘tidak mau rugi’
Sebagai seorang calon entrepreneur, Anda juga disarankan sedari sekarang menanamkan sikap ‘tidak mau rugi’ dalam diri Anda. Arti dari ‘tidak mau rugi ‘ disini adalah apapun yang Anda lakukan dalam bisnis harus ada nilainya bagi bisnis Anda. Nilai disini tidak harus berupa materi atau nominal uang, tapi bisa juga berwujud non-materi seperti image positif bagi bisnis Anda, awareness masyarakat akan keberadaan usaha Anda, atau peluang untuk mempromosikan jasa Anda. Sikap ini harus benar-benar tertanam (embodied) dalam diri Anda, sehingga tanpa sadar pun Anda sudah akan terlatih untuk mengkalkulasi untung-rugi tindakan-tindakan yang akan Anda lakukan.
  • Keberanian mengambil risiko
Entrepreneurship erat kaitannya dengan mengambil risiko. Disini prinsip umum no risk –no gain memang sangat berlaku. Untuk itu, lebih baik Anda lihat dulu apakah Anda memang tipe orang yang berani mengambil risiko dalam bisnis. Orang yang terlalu takut dalam mengambil risiko seringkali bukan orang yang tepat untuk berbisnis. Namun ingat, orang yang bermental penjudi –mengambil risiko tanpa pertimbangan, juga sama buruknya dalam berbisnis.

Risiko yang sepatutnya diambil dalam bisnis adalah risiko yang terukur (calculated risk ) yaitu risiko yang sudah Anda perhitungkan dengan matang. Disini selain Anda dituntut mempunyai kemampuan teknis dalam memperkirakan risiko, Anda juga dituntut untuk mempunyai nyali untuk berani mengambil risiko yang telah Anda perhitungkan.
  • Kesiapan untuk bekerja lebih keras, lebih tekun, dan lebih sabar
Seringkali dalam merintis usaha baru, ketekunan dan kesabaran merupakan hal yang mutlak. Dalam usaha baru seringkali beberapa hal memang berjalan tidak sesuai dengan harapan kita. Bahkan, seringkali beberapa bidang usaha tertentu membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang ekstra besar. Saya punya kenalan yang merintis bisnis di bidang MLM. Setiap kali mengalami kesulitan, dia kapok dan pindah ke MLM lain. Begitu seterusnya. Jelas, bisnis tidak bisa dijalankan dengan cara begini. Ketidaktekunan dan ketidaksabaran dalam menjalankan bisnis tidak akan menghasilkan apa-apa.

Bekerja lebih keras juga sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam memulai usaha baru. Bahkan, bukan hanya bekerja keras, Anda juga dituntut untuk bekerja cerdas alias selalu memutar otak dalam merencanakan dan menjalankan bisnis Anda ke arah yang lebih baik. Segala aktivitas ini cukup menyita waktu. Meskipun sebagai entrepreneur, Anda mungkin cukup leluasa mengatur waktu , tapi ini bukan berarti bahwa jam kerja Anda lebih pendek lho. Malahan, seringkali dalam menjalankan aktivitas bekerja dan merencanakan bisnis ini, Anda bisa saja bekerja sampai larut malam. Biasanya jika siang hari dipergunakan untuk aktivitas yang berhubungan dengan relasi atau pelanggan, maka malam harinya biasa digunakan untuk merencanakan arah bisnis Anda ke depannya. Ibaratnya, jika ‘orang kantoran’ bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, maka Anda sebagai entrepreneur harus siap untuk bekerja 24 jam penuh.
  • Bangga akan usaha Anda
“ Ah, cuma perusahaan kecil kok..” begitu saya sering dengar dari banyak orang ketika saya menanyakan dimana mereka bekerja. Tapi jawaban itu bukan monopoli karyawan saja lho. Sering juga saya jumpai entrepreneur yang terkesan tidak percaya diri dan kurang bangga akan usahanya. Salah satu kerabat saya sendiri bahkan menyebut poultry shop yang dimilikinya sebagai ‘warung’. Tentu saja banyak orang yang jadi salah mengerti dan mengira bahwa tokonya memang hanya benar-benar berskala ‘warung’. Sikap tidak pe-de ini menurut pakar manajemen Rhenald Kasali diistilahkan dengan ‘mendiskon diri sendiri’.

Sebagai entrepreneur Anda harus bisa menyeimbangkan antara tampil high-profile dan tampil low-profile. Ini berarti bahwa sesekali Anda juga harus tampil high-profile untuk meyakinkan relasi dan pelanggan Anda. Terlalu sering ‘mendiskon diri sendiri’ bisa membuat Anda kelihatan tidak percaya diri pada kemampuan Anda . Jika Anda sendiri tidak percaya pada kemampuan Anda, Anda tentu tidak bisa mengharapkan relasi dan pelanggan Anda akan percaya pada Anda, bukan?!

Apa Beda Manajer dengan Entrepreneur?

Entrepreneur
  1. Aktif mencari perubahan dengan mengeksploitasi peluang-peluang
  2. Menerima atau mengendalikan resiko
  3. Dimotovasi oleh kebebasan dan peluang untuk menciptakan keutungan finansial
  4. Cenderung menerima kesalahan sebagai suatu bagian normal/biasa
  5. Lebih intens/langsung terlibat dalam aktivitas operasinal organisasi

Manajer
  1. Meminimalkan resiko
  2. Cenderung menghindari resiko
  3. Dimotivasi oleh promosi karier dan imbalan tradisional lainnya
  4. Menghindari kesalahan
  5. Cenderung mendelegasikan tugas-tugas dan mengawasi pekerjaan

Sumber : Rambat Lupiyoadi (2004)”Entrepreneurship from Mindset to Strategy.