15 Oktober 2008

Mengenali dan menganalisa peluang

Peluang usaha sebenarnya dihasilkan dari cara pandang dan pengolahan terhadap suatu informasi yang didapat seseorang. Siapa saja bisa mendapatkan informasi, sehingga seharusnya siapa saja bisa mengenali suatu peluang. Namun, seringkali informasi yang sama disikapi secara berbeda oleh orang yang berbeda. Ada yang menganggapnya sebagai informasi yang tidak berguna, ada yang menganggapnya sebagai peluang, dan ada pula yang menganggapnya justru sebagai hal yang buruk. Disini tentu saja diperlukan ‘jam terbang’ dan ‘latihan-latihan’ untuk bisa memandang dan mengolah informasi tersebut sebagai suatu peluang. Hal-hal pokok yang harus Anda tanamkan dalam diri Anda untuk bisa mengenali peluang yang melintas didepan Anda adalah :

Tentukan ‘garis besar’ arah usaha atau minat Anda
Jika Anda sudah tahu bisnis apa yang Anda geluti saat ini, maka Anda akan lebih mudah untuk memproses suatu informasi menjadi sebuah petunjuk adanya peluang. Tapi jika belum, ada baiknya Anda mempunyai ‘ancar-ancar’ kira-kira kemana arah usaha atau minat Anda. Mungkin bisa dari hobby atau latar belakang keluarga atau pendidikan. Penentuan ini sangat membantu dalam memfokuskan pikiran kita dalam menyerap informasi yang ada. Misalkan saja, jika Anda mempunyai minat kearah bidang komputer, tentu saja Anda harus rajin mengamati perkembangan teknologi terbaru, kebijakan pemerintah, pengaruh dollar terhadap harga komputer,dsb.
Tumbuhkan kepekaan lingkungan dan amati kondisi di sekitar Anda
Jika Anda ingin menemukan banyak peluang usaha dalam hidup Anda, jangan pernah bersikap cuek –cuek saja terhadap apa yang terjadi di sekitar Anda. Amati perubahan-perubahan dan tren yang terjadi. Cobalah untuk menerka-nerka apa gerangan yang sedang terjadi dan analisalah apa dampaknya. Hal ini akan melatih kepekaan dan daya analisis Anda sehingga Anda akan lebih mudah dalam mengolah suatu informasi menjadi peluang usaha.

Istilahnya disini adalah “buka mata buka telinga “ dimanapun Anda berada dan apapun yang sedang Anda lakukan. Beberapa aktivitas yang bisa Anda lakukan untuk mencari peluang adalah:
• Traveling
• Bertemu dengan orang-orang baru
• Aktif dalam kegiatan kampus
• Belajar bahasa baru
• Membaca buku yang biasanya tidak Anda baca (selain textbook tentunya!)
• Datang ke seminar, debat, konser, acara-acara publik lainnya
• Mencoba hobby baru
• Menonton berita di TV, membaca koran dan majalah
• Mendiskusikan kejadian-kejadian atau berita dengan teman atau mentor/ dosen
• Magang
Terapkan manajemen informasi pada diri Anda
Manajemen informasi bisa dimulai dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari semua yang Anda baca, lihat, dengar, maupun alami sendiri..Sumber-sumber informasi antara lain buku atau artikel di media massa, seminar, training, internet, dsb. Informasi bisa juga didapat dari hasil diskusi, ngobrol santai, maupun chatting di Internet. Teman saya bahkan meluangkan waktu untuk chatting dengan orang-orang dari mancanegara seputar peluang bisnis. Kemudian, jangan pernah remehkan suatu informasi. Bisa saja informasi yang Anda anggap tidak berguna saat ini, bisa jadi berguna di masa depan. Simpan saja dulu informasi tersebut untuk suatu waktu bisa diakses kembali. Karena memori pikiran kita terbatas untuk menyimpan terlalu banyak informasi, ada baiknya Anda membackup informasi yang Anda punyai dalam bentuk catatan di agenda, komputer, atau alat penyimpan yang lain.

Setelah Anda banyak melakukan pengamatan, kemungkinan besar sekarang Anda akan mendapat banyak ide untuk bisnis Anda. Nah, Profesor Jeffry A. Timmons, pengarang buku Entrepreneurship for 21st Century memberikan 4 karakteristik untuk mengenali apakah ide Anda adalah sebuah peluang bisnis yang bisa dijalankan.

Berikut ini adalah 4 karakteristik tersebut :
  1. Ide tersebut menarik bagi pelanggan
  2. Ide tersebut menarik bagi pelanggan
  3. Ide tersebut dapat diterapkan dalam ‘jendela peluang’ yang terbuka. ‘Jendela peluang’ disini mempunyai makna jumlah waktu yang tersedia untuk membawa ide tersebut ke pasar. Begitu competitor membawanya duluan ke pasar, maka ‘jendela peluang’ akan tertutup.
  4. Anda mempunyai sumber daya dan ketrampilan untuk membuat ide Anda menjadi sebuah bisnis, atau Anda tahu seseorang yang bisa melakukannya dan mau bekerja dengan Anda.

Menjaga Reputasi Pribadi dan Bisnis Anda

Reputasi yang baik adalah modal utama yang harus dipersiapkan dan dimiliki oleh seorang entrepreneur. Reputasi yang baik memudahkan seorang entrepreneur untuk membuat jaringan relasi (network) dengan banyak pihak untuk melancarkan bisnisnya. Sebaliknya, reputasi yang tidak baik bisa menghambat seorang entrepreneur dalam melakukan bisnis dan networking. Reputasi ini bisa dinilai dari berbagai macam aspek, seperti kehidupan pribadi yang mungkin mencakup aspek moral, religiusitas (di Indonesia biasanya hal ini masih cukup diperhatikan), kehidupan keluarga, riwayat keluarga, dan lain sebagainya.

Selain kehidupan pribadi, reputasi yang akan sangat diperhatikan dari sosok seorang entrepreneur adalah track record- nya dalam hal bisnis, atau secara lebih umum adalah mengenai masalah uang! Jangan pernah main-main dengan masalah uang! Sekali Anda pernah terdengar mempunyai reputasi buruk dalam masalah uang, maka orang akan berpikir seribu kali untuk berbisnis dengan Anda. Reputasi buruk ini misalnya Anda pernah ngemplang (tidak mengembalikan) utang yang dipinjam dari teman Anda, menggunakan kas organisasi kampus untuk kepentingan pribadi, atau bahkan sekedar ‘meminjam dulu’ kas organisasi untuk keperluan Anda tanpa minta izin lebih dahulu ke pengurus lainnya pun sudah cukup untuk menjatuhkan nama Anda.

Percayalah bahwa network di dunia bisnis sangatlah luas sehingga isu buruk apapun tentang Anda akan dengan mudah tersebar dari telinga ke telinga. Jadi, hati-hati dan jaga reputasi Anda baik-baik karena itu modal utama Anda.

Pengenalan Pribadi sebagai Calon Entrepreneur

Seorang calon young entrepreneur yang baik harus mengenali dirinya sendiri. Pengenalan yang baik akan diri sendiri akan menuntun si calon entrepreneur dalam menemukan, menentukan, dan menjalani jalur entrepreneurship yang ‘pas’ dengannya. Pengenalan diri disini termasuk salah satu unsur yang cukup mempengaruhi keberhasilan seorang entrepreneur. Semakin Anda mengenali diri Anda sendiri, maka akan makin kecil peluang terjadinya kesalahan-kesalahan yang tidak perlu. Otomatis, akan semakin besar pula peluang keberhasilannya. Beberapa poin pengenalan akan diri sendiri yang harus dilakukan oleh calon young entrepreneur antara lain adalah :
Karakter pribadi
Sebagai langkah pertama untuk mengenali diri sendiri, Anda bisa mencoba memahami karakter diri Anda sendiri. Karakter ini dihasilkan dari faktor tempaan lingkungan. Sebagai ilustrasi, jika Anda dilahirkan di tengah lingkungan keluarga yang hidup dari berwirausaha, kemungkinan besar Anda akan sudah lebih terbiasa dengan kehidupan seorang entrepreneur dbandingkan mereka yang dilahirkan di keluarga pegawai. Tapi tentu saja ini bukanlah hal yang mutlak. Banyak juga keturunan pegawai yang sukses menjadi seorang entrepreneur. Hal ini tak lain karena sifat dan sikap entrepreneur sesungguhnya bisa dilatih dan diarahkan.

Tidak ada jawaban salah atau benar dalam pemahaman karakter. Yang ada adalah cocok tidaknya karakter tersebut dalam menjalankan usaha. Terkadang karakter tertentu bisa cocok untuk membuka usaha tertentu tapi tidak untuk usaha yang lain, misalkan saja seseorang yang punya karakter ‘kurang telaten’ dan ingin mendapatkan hasil besar secara cepat, tentunya kurang cocok jika membuka toko kelontong. Toko kelontong mengandalkan jumlah penjualan yang secara terus-menerus meskipun dengan margin keuntungan yang kecil. Ibaratnya dia harus mengumpulkan ‘uang receh’. Mungkin akan lebih cocok jika dia mencari model usaha yang bersifat ‘high profit’ dengan frekuensi penjualan yang mungkin tidak akan terlalu sering dalam setahun, seperti misalnya pekerjaan yang sifatnya proyek seperti event organizer misalnya.

Banyak sekali aspek-aspek karakter pribadi yang perlu digali dan dipahami jika Anda ingin membuka usaha. Anda bisa mencari pemahaman mengenai karakter Anda melalui perenungan pribadi, maupun melalui analisa dan pendapat orang di sekitar atau orang terdekat Anda. Jika dirasa perlu, tidak ada salahnya bukan pergi ke psikolog untuk mendapatkan informasi mengenai karakter Anda?
Cita-cita dan motivasi pribadi
Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri Anda yang mendorong Anda untuk melakukan sesuatu, termasuk untuk menjadi seorang young entrepreneur. Kebanyakan orang yang berhasil di dunia ini mempunyai motivasi yang kuat yang mendorong tindakan-tindakan mereka. Mereka tahu betul apa yang menjadi motivasi mereka dan terus memelihara motivasi ini dalam setiap tindakannya. Jika Anda ingin berhasil dalam usaha Anda, Anda juga harus memiliki motivasi tertentu dan terus memeliharanya.

Motivasi tiap orang dalam membuka usaha tentulah berbeda-beda. Ada yang ingin bercita-cita mengembangkan bisnis sampai level dunia, ada yang ingin kaya dari usaha tersebut, atau ada juga yang sekedar untuk menambah penghasilan bulanan. Sekali lagi, tidak ada yang salah dari sekian banyak motivasi tersebut. Apapun motivasi Anda, peliharalah itu sebagai semangat dalam setiap tindakan Anda dalam usaha. Oya, seringkali motivasi juga bisa ikut terpelihara jika ada dukungan dari lingkungan sekitar, dan terutama dari orang-orang seperti terdekat. Oleh karena itu, carilah dukungan keluarga Anda jika ingin membuka usaha. Jika mereka bisa memahami dan mendukung langkah Anda untuk membuka usaha, maka itu sudah merupakan support yang luar biasa dan pasti akan membuat motivasi Anda bertambah kuat.
Bakat dan Kemampuan
Setelah Anda memahami karakter dan motivasi Anda, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari tahu dan menggali potensi bakat dan kemampuan Anda. Pemahaman akan bakat dan kemampuan diri menjadi sangat penting karena pemahaman ini akan menjadi poin penting dalam pemilihan dan pelaksanaan bisnis Anda. Katakanlah Anda mempunyai bakat dan kemampuan memotret, maka sudah tentu ini akan menjadi modal yang sangat bagus umtuk membuka usaha studio foto misalnya. Selain dapat menunjukkan kelebihan kita, pemahaman akan bakat dan kemampuan juga dapat menunjukkan kelemahan kita.

Kelemahan disini bukan untuk disesali atau ditangisi, tetapi justru harus diatasi bagaimanapun caranya. Bisa saja dengan bekerjasama atau mempekerjakan orang yang mempunyai kelebihan di bidang yang merupakan Anda. dengan demikian dia bisa menutupi kelemahan Anda, dan Anda berdua bisa saling mengisi sehingga usaha Anda akan berjalan dengan baik. Misalkan Anda seorang yang sangat pandai dalam mempromosikan usaha, namun kurang ‘telaten’ dalam mengurusi keuangan, maka Anda bisa saja bekerjasama dengan seseorang yang piawai dalam mengurus keuangan. Anda berbagi tugas dengannya, dia mengurusi pembukuan perusahaan, dan Anda mempromosikan jasa perusahaan. Disini kelebihan tiap orang ditonjolkan sekaligus menutupi kelemahan pihak yang lain. Bagus bukan?
Pengalaman
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Anda akan belajar banyak hal dari pengalaman Anda dan pengalaman orang lain. Demikian juga halnya dengan membuka usaha sendiri. Bukan berarti bahwa dalam membuka usaha harus berpengalaman terlebih dahulu. Namun apabila Anda mempunyai pengalaman terlebih dahulu di bidang yang akan Anda geluti, itu akan sangat membantu Anda. Pengalaman ini bisa didapat dari siapa saja dan dimana saja. Bisa merupakan pengalaman pribadi seperti bekerja di tempat lain, tapi bisa juga belajar dari pengalaman orang lain seperti melalui kursus dan training.

Sebagai seorang young entrepreneur ada banyak macam pengalaman yang bisa Anda jadikan bekal dalam membuka usaha sendiri, misalkan pengalaman kerja, pengalaman organisasi di kampus atau masyarakat, dan mungkin pengalaman Anda membuka usaha jika memang sudah pernah membuka usaha sebelumnya.
Menelaah pengalaman membuka usaha yang telah lalu juga bisa memberikan gambaran, apakah sebenarnya kita ‘berbakat’ untuk membuka usaha sendiri.

Kalau sebelumnya Anda mungkin telah beberapa kali membuka usaha, dan semuanya gagal, maka seharusnya ini menjadi semacam ‘PR’ untuk dipikirkan apa penyebab utamanya. Apakah masalah bidang usahanya? Pengelolaannya? Atau malah-kembali ke awal pembicaraan, karakter Anda yang tidak pas? Silakan merenungkan lebih dalam lagi untuk mencari jawabannya.

Beberapa Entrepreneurial Skills yang Bisa Dipelajari

Entrepreneurial skills sifatnya sangat luas dan tidak bisa dipelajari hanya dengan membaca saja, melainkan harus terlibat langsung untuk dapat menanamkan skills tersebut dalam diri seorang calon entrepreneur . Namun demikian pada sesi ini akan ada beberapa panduan bagi Anda untuk melatih entrepreneurial skills Anda, antara lain :
• Pengenalan pribadi sebagai calon entrepreneur
• Menjaga reputasi pribadi dan bisnis
• Mengenali dan menganalisa peluang
• Networking
• Persuasi dan negosiasi
• Memilih bidang usaha
• Mengatasi kendala dari orang terdekat

Usaha Menggantikan Barang Bermerek Valentina Asjari Taroreh

Banyak orang bilang setiap peristiwa pasti ada sisi baik ataupun sisi buruknya. Seburuk-buruknya sebuah peristiwa, pasti dia mempunyai sisi baik yang bisa membuat seseorang berkembang lebih maju lagi. Terutama bagi mereka yang jeli melihat peluang atau dapat memanfaatkan peristiwa tersebut.

Demikian juga yang dialami Valentina Asjari Taroreh (40), pengusaha tas, sepatu, dan baju khusus untuk perempuan. “Mulanya, ya, karena krisis moneter (krismon) itu. Saya lihat banyak orang yang senang barang-barang berkualitas, tetapi tidak mampu membelinya karena krismon. Lalu saya pikir, karena saya tidak menyediakan barang-barang bagus dengan harga terjangkau,” cetus pemilik merek Bless yang mulai berbisnis tahun 1999 ini.

Kebutuhan akan barang-barang bagus ditangkap Valentina karena teman-temannya sering mengeluh tidak lagi bisa membeli tas-tas bermerek dari luar negeri karena devaluasi rupiah. Mereka ingin tetap tampil gaya, tetapi harga barang-barang sudah melayang jauh.

Ibu empat anak ini melihat peluang bisnis, juga karena dia merasa hampir tidak mempunyai kesibukan “setelah anak-anaknya besar, perhatian yang mereka butuhkan tak sebesar sewaktu masih kanak-kanak. Akibatnya, saya nyaris tidak punya kegiatan. Mungkin saya bisa jalan-jalan ke mal atau ke tempat lain, tetapi masak mau begitu terus. Jadi, harus ada kegiatan positif yang saya lakukan,” ujar ibu dari anak berusia 17, 11, 9 dan 8 tahun ini.

Setelah melihat adanya waktu luang, Valentina mulai membuat tas. Awalnya ia hanya membuat tas untuk dirinya sendiri. Lama kelamaan ada temannya yang tertarik dan ingin memiliki tas buatan Valentina. Pertama cuma satu orang, tetapi setelah itu teman yang minta dibuat tas semakin banyak. Di sinilah Valentina melihat peluang bisnis. Dikarenakan tas buatan Valentina bagus dan harganya terjangkau, teman-temannya merasa senang.

Setelah melihat adanya kebutuhan-kebutuhan tas, Valentina juga melihat adanya kebutuhan sepatu atau sandal untuk ukuran besar. Kebutuhan ini muncul dari dirinya sendiri. Kaki Valentina yang berukuran nomor 41 sangat sulit mencari sepatu atau sandal.

“Kalau mencari di mal atau di toko, ukuran sandal paling besar untuk perempuan hanya sampai 40. Kalaupun ada, modelnya belum tentu cocok. Lalu saya punya ide, kenapa tidak saya buat saja sandal atau sepatu berdasarkan ukuran masing-masing orang. Jadi, tidak membuat masalah dengan ukuran yang sama,” kata Valentina.

Ternyata keluhan Valentina tidak menjadi miliknya sediri. Banyak teman Valentina yang mempunyai keluhan sama. “Kaki setiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang kakinya ukuran 38, tetapi besar di bagian atas sehingga memerlukan tutup sepatu berukuran 39. Di toko, kalau ukuran solnya 38, pasti ukuran bagian atas juga 38. Hal ini yang sering membuat orang sulit menemukan sepatu yang cocok,” kata Valentina.

Ide membuat sepatu dengan ukuran yang personal, disertai tas senada dengan sepatu, ternyata mendapat sambutan baik. Setiap kali Valentina membuat sebuah model baru, pasti banyak yang memesan. “Tetapi, mereka memesan dengan bentuk yang berbeda. Jadi, dari satu model biasanya saya pecah menjadi beberapa model. Jadi, tidak ada pelanggan yang memiliki sepatu yang persis sama. Entah itu warna atau modelnya yang saya modifikasi, pasti ada perbedaannya. Biar pelanggan tidak merasa miliknya sama dengan orang lain,” kata Valentina, yang menyiapkan model-model hak sepatu dan gagang tutup tas di bengkelnya sehingga memudahkan pelanggan memilih.

Valentina yang memiliki dua butik, di Kemang dan di Mal Kelapa Gading 3, selalu mengerjakan pesanan pelanggan di bengkel sekaligus rumah tinggalnya di kawasan Condet, Jakarta Timur. Di bengkel itu terpajang puluhan sepatu dan tas contoh. Biasanya pelanggan datang dan memilih model serta warna yang diinginkan, lalu diukur sesuai keinginannya. “Makanya, saya tidak pernah memproduksi barang dalam jumlah banyak karena yang saya pamerkan hanya barang contoh. Kalau ada pesanan, baru dibuatkan yang lain,” ujar Valentina, yang mengobral barang contoh setiap akhir tahun.

Dalam merancang model sepatu atau tas, Valentina melakukannya kapan saja. Apa saja bisa menjadi inspirasi bagi Valentina. Contohnya, ketika menyantap ketupat pada hari Lebaran lalu, Valentina terinspirasi untuk membuat sepatu dan tas dengan model anyam seperti ketupat. Namun, berhubung sekarang mendekati Hari Natal, Valentina membuatnya dengan warna khas Natal, yakni merah dan hijau. “Model ini sebentar lagi akan saya pamerkan di butik. Saya juga menyiapkan sepatu lain dengan warna-warna berbeda. Tetapi, setiap modelnya akan dibuat satu pasang saja,” ujar Valentina.

Soal merancang model baru ini, Valentina mengatakan harus dilakukan terus-menerus karena model pun selalu berkembang. “Fashion itu seperti makanan, cepat sekali menjadi basi. Kalau tidak ada pembaharuan terus-menerus, bisa ditinggal pelanggan,” katanya menegaskan.

Pembaharuan ini diakui Valentina agak sulit, karena selain harus melihat selera pasar, juga mesti ada sesuatu hal yang baru. Produknya harus berbeda dengan produk sejenis, agar pelanggan selalu mau datang kembali. Oleh karena itu, Valentina membuat lukisan pada tas dan sepatunya. Model pertama lukisannya adalah anak laki-lakinya. Sekarang tidak hanya wajah anak yang menjadi model, tetapi juga binatang dan pemandangan. Lukisan tersebut lalu dipadukan dengan mote dan payet agar tampak hidup dan gemerlap.

“Ide lukisan ini adalah ide saya sendiri. Tetapi, yang membuatnya bukan saya, melainkan tukang. Saya sendiri tidak melukis,” kata Valentina yang dibantu dua pelukis.

Semula Valentina memiliki 50 karyawan. Namun, sekarang dia hanya memiliki 35 karyawan. “Setelah saya evaluasi, ternyata banyak inefisiensi di bengkel saya. Banyak tenaga, tetapi pekerjaan yang dihasilkan hanya sedikit. Mereka jadi saling mengandalkan kawannya. Akhirnya pekerjaan justru jadi terbengkalai. Setelah saya lakukan efisiensi tenaga kerja, sekarang bisa berjalan baik,” ujar Valentina.

Mengenai karyawan, Valentina mengaku sangat terbantu dengan keberadaan mereka. Namun, dia masih merasa kesulitan karena sering terjadi salah pengertian antara dia dan karyawan dalam menghasilkan produk. Akibatnya, Valentina harus melakukan kontrol terus-menerus.

“Sering terjadi, saya mintanya A, tetapi jadinya B. Kalau sudah begitu, barang itu tidak terpakai karena itu barang pesanan. Pemesannya mana mau menerima barang yang berbeda dengan pesanan. Terpaksa saya harus membuat yang baru lagi,” kata Valentina.

Sebenarnya Valentina ingin memiliki seorang pengawas yang bisa menjembatani keinginannya dengan karyawan. Maksudnya, agar Valentina bisa berkonsentrasi pada rancangan saja, tidak harus sampai pada pengawasan produknya. Namun, sampai sekarang dia belum menemukan orang yang cocok.

Sumber: Kompas Minggu 7 Desember 2003

14 Oktober 2008

Beberapa Ancaman Kegagalan Small Business

Ketidakmampuan Manajemen
Dalam kebanyakan bisnis kecil, kurangnya pengalaman manajemen atau lemahnya pengambilan keputusan merupakan masalah utama dari kegagalan usaha. Kadang-kadang manajer bisnis kecil tidak memiliki kemampuan untuk menjalankannya dengan berhasil. Pemiliknya kurang memiliki kepemimpinan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membuat bisnis berjalan.

Kurangnya Pengalaman
Manajer-manajer bisnis kecil perlu memilliki pengalaman dalam bidang yang akan dimasukinya.

Lemahnya Kendali Keuangan
Manajemen yang sehat adalah kunci perusahaan kecil, dan manajer yang handal menyadari bahwa semua keberhasilan bisnis memerlukan kendali keuangan yang pantas. Dua kesalahan keuangan yang sering trejadi di perusahaan kecil: kekurangan modal dan kelemahan dalam kebijakan kredit terhadap pelanggan.

Gagal Mengembangkan Perencanaan Strategis
Terlalu banyak manajer bisnis kecil yang mengabaikan perencanaan strategis, karena mereka mengira hal tersebut hanya bermanfaat untuk perusahaan besar. “Saya tidak punya waktu” atau “Kami terlau kecil untuk mengembangkan perencanaan strategis,” kata mereka mencari alasan.

Pertumbuhan Tak Terkendali
Pertumbuhan merupakan sesuatu yang alamiah, sehat dan didambakan oleh semua perusahaan, tetapi pertumbuhan haruslah terencana dan terkendali.

Lokasi yang Buruk
Untuk bisnis apapun, pemilihan lokasi yang tepat untuk sebagian merupakan suatu seni—dan sebagian lagi ilmu.

Pengendalian Persediaan yang Tidak Baik
Umumnya, investasi terbesar yang harus dilakukan manajer bisnis kecil adalah dalam persediaan, namun pengendalian persediaan adalah salah satu tanggung jawab manajerial yang paling sering diabaikan.

Ketidakmampuan Membuat Transisi Kewirausahaan
Berhasil melewati “tahap awal kewirausahaan” bukanlah awal jaminan keberhasilan bisnis. Setelah berdiri, pertumbuhan biasanya memerlukan perubahan gaya manajemen yang secara drastis berbeda. Kemampuan-kemampuan yang tadinya membuat seorang entrepreneur berhasil sering kali mengakibatkan ketidakefektifan menajerial.

Beberapa Cikal bakal yang lazim dari Entrepreneurship & Small Business

Part Time-Entrepreneurship
Memulai bisnis sambilan/ paruh waktu merupakan pintu masuk yang populer untuk menjadi entrepreneurship. Entrepreneur part-time mendapatkan yang terbaik dari kedua dunianya: yaitu bekerja pada orang lain dan membuka bisnis sendiri. Mereka dapat masuk ke dalam bisnis tanpa mengorbankan keamanan, pendapatan, dan fasilitas tetap dari bekerja. Hampir 13 juta orang Amerika adalah orang yang secara penggal waktu bekerja untuk dirinya sendiri. Keuntungan utama dari bisnis sambilan ini adalah resiko yang lebih rendah apabila terjadi kegagalan usaha. Banyak pengusaha macam ini “menguji suasana kewirausahaan” untuk melihat apakah gagasan bisnis mereka berhasil dan apakah mereka menikmati usaha mandiri itu. Dengan berkembangnya usaha mereka, pengusaha sambilan ini menghabiskan lebih banyak waktu untuk bisnisnya sampai akhirnya terbentuk bisnis yang sepenuhnya dan dia keluar dari pekerjaannya.
Memulai Bisnis dari Rumah
Bisnis di rumah (home-based business) berkembang cepat. Di masa lalu, bisnis di rumah cenderung berupa industri rakyat yang tidak menarik seperti kerajinan atau menjahit. Sekarang bisnis di rumah lebih beragam seiring dengan kemajuan teknologi seperti internet, mobile devices, dll.
Bisnis Keluarga
Bisnis keluarga adalah suatu bisnis yang melibatkan dua atau lebih anggota keluarga yang mengendalikan keuangan perusahaan. Perusahaan keluarga adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perekonomian suatu negara, apalagi di Indonesia. Banyak bisnis besar di negeri ini berawal dari bisnis keluarga seperti Grup Gudang Garam, Sampoerna, dsb. Di negara maju pun begitu. Dari 21 juta bisnis di Amerika Serikat, 90 persen dimiliiki dan dikelola oleh keluarga. Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 50 juta orang dan menghasilkan 55 persen produk domestik bruto Amerika. Hebatnya lagi, sepertiga perusahaan yang masuk daftar Fortune 500 adalah perusahaan keluarga.